Pesona Kawah Ijen Tak Hanya “Blue Fire”!

By | September 27, 2016

KOMPAS.com– Dini hari biasanya orang sedang asyik terlelap. Namun, tak begitu yg terjadi di Gunung Ijen, di Bondowoso, Jawa Timur.

Saat dingin masih menusuk tulang, waktu sekitar tiga per empat malam, aktivitas di Gunung Ijen justru menggeliat. Para pendaki akan siap mendaki ke kawah gunung ini.

Dengan medan tanah berpasir dan sesekali bebatuan terjal, wisatawan butuh waktu normal mendaki sekitar 3-4 jam. Hawa dingin mulai berjibaku dengan beban yg harus ditumpu kaki selama mendaki dengan kemiringan 40 derajat.

Namun, langkah dan aktivitas para pendaki tidak surut. Apa sih yg mereka buru?

(Baca juga: “Backpacker” ke Ijen via Bondowoso, Ini Rutenya)

Blue fire. Itu tujuan para pendaki sampai rela bersusah payah mendaki ke kawah di ketinggian 2.443 meter dari atas permukaan laut.

Mereka menunggu semburan api biru yg muncul dari Kawah Ijen. Ijen adalah sesuatu dari beberapa lokasi di dunia yg milik fenomena tersebut, selain di Islandia.

“Menakjubkan, tempat ini ternyata indah sekali,” kata Fred, turis yang berasal Perancis yg menyaksikan segera kobaran blue fire, seperti dikutip Kompas.com, Minggu(24/11/2013).

Api berwarna biru kelihatan bergoyang di puncak gunung, dari dini hari hingga menjelang fajar. Waktu terbaik bagi menyaksikannya adalah antara pukul 02.00 WIB hingga 03.00 WIB.

Reza Pahlevi/Kompas.com Penanjakan Kawah Ijen

Pesona api biru Kawah Ijen sudah mendunia. Banyak wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke kawah yg milik kedalaman 200 meter dan luas 5.466 hektar tersebut.

Merujuk, Kompas.com, Jumat (15/1/2016), pada 2015 lebih dari 40.000 wisman berkunjung ke Kawah ijen. Adapun turis yg paling mendominasi berasal dari Perancis dan China.

Namun, setiap pendaki ke kawah ini harus tahu benar risiko di balik pesona “blue fire”, agar dapat terus waspada. Ada asap dan bau belerang yg berbahaya bila sampai terhirup berlebihan, sekalipun telah menggunakan masker.

Nah, untungnya, pesona kawasan Ijen juga bukan cuma blue fire.

Melihat para penambang belerang di kawah ini, mampu jadi tontonan mempesona tersendiri. Mereka bekerja dengan alat seadanya dan menggunakan cara konvensional.

Tontonan yg mampu menakar nyali diri sendiri.

KOMPAS/HARRY SUSILO Petambang sedang mengambil belerang di kawasan Kawah Ijen, Jawa Timur, Selasa (12/11/2013). Dalam sehari, seorang petambang mampu membawa belerang 60 hingga 140 kilogram dengan imbalan Rp 780 per kilogram. Untuk tidak mengurangi penghasilan, sebagian dari petambang juga berprofesi sebagai pemandu wisata untuk turis yg berkunjung ke kawah di perbatasan Banyuwangi-Bondowoso tersebut.

Para penambang ini turun ke dasar kawah dan mengumpulkan bongkahan belerang. Bongkahan itu dulu mereka pikul ke tempat penampungan di puncak gunung.

Semua aktivitas penambangan belerang tersebut dikerjakan menggunakan tangan dan tenaga manusia saja. Banyak turis berdecak melihat keberanian dan kekuatan otot para penambang ini.

Lalu, momen matahari terbit di atas puncak Gunung Ijen, juga mampu jadi pesona tersendiri. Panorama yg terhampar di depan mata setelah matahari menunjukkan diri, menjadi pesona berikutnya.

Dari puncak gunung ini, pengunjung dapat melihat jauh menyeberangi daratan, bahkan sampai melihat puncak Gunung Merapi di Yogyakarta yg ada di timur Kawah Ijen.

Gunung-gunung yang lain juga seolah menyembul di balik awan, seperti puncak Gunung Raung, Gunung Suket, dan Gunung Rante, yg semuanya ada di sekitar Gunung Ijen.

Mengabadikan momen

Sama seperti tempat rekreasi lainnya, mendaki ke Kawah Ijen wisatawan dikenakan juga biaya masuk. Bagi wisatawan domestik tiketnya Rp 5.000 per orang pada hari kerja dan Rp 7.500 per orang pada hari libur.

Adapun bagi wisman, tiket masuk dibanderol Rp 100.000 per orang pada hari kerja dan Rp 150.000 per orang pada hari libur.

Kalau tiket telah bayar, mendaki juga tidak ringan, maka mengabadikan perjalanan adalah pilihan yg masuk akal. Dokumentasi foto diri berlatar pesona kawah ini adalah salah satunya.

ARSIP KYLOR MELTON Kylor Melton, seorang wisatawan yang berasal Selandia, di Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur.

Sebelumnya, harap dicatat, ada biaya tambahan buat wisatawan yg membawa perlengkapan dokumentasi. Sayangnya, peralatan dokumentasi khusus seperti kamera apalagi kamera video dikenakan biaya tambahan ketika masuk kawasan ini.

Untuk setiap kamera foto, ada tambahan ongkos Rp 250.000 per unit. Adapun kamera video terkena biaya Rp 1 juta per unit.

Tenang, ada solusinya. Biar tidak terkena tambahan biaya, Anda sekarang dapat memakai ponsel kamera buat mengabadikan momen di sini.

Terlebih lagi, kamera ponsel juga telah milik teknologi yg memungkinkan potret diri tetap menghasilkan gambar optimal sekalipun diambil di tempat minim cahaya. Latar belakang api biru pun tetap mulai dapat terekam tanpa perlu khawatir terjadi efek backlight.

Resolusi juga bukan lagi persoalan buat ponsel kamera. Oppo F1s, misalnya, milik resolusi 16 MP bagi kamera depannya dengan dukungan sensor 1/3, serta aperture f/2.0.

Oppo Indonesia Fitur beautyfy 4.0 pada ponsel Oppo F1s

Ponsel ini pulnya pula dukungan fitur Screen Flash Selfie, memastikan gambar diri menggunakan kamera depan tidak mulai low exposure. Hasil potret diri mulai kelihatan cerah.

Kalau mau hasil selfie yg berbeda, pengguna juga mampu memanfaatkan fitur Selfie Panorama buat latar dan hasil foto di mengitari area 120 derajat.

Berani coba?

Sumber: http://travel.kompas.com