Apa Kata Pendaki Indonesia Tentang Gunung Carstensz Di Papua?

By | September 27, 2016

JAKARTA, KOMPAS.com – Anggapan Gunung Cartensz sebagai gunung yg membutuhkan biaya mahal bagi mendaki masih lekat di mata sejumlah pendaki Indonesia. Sejumlah pendaki dan operator pendakian yg menyediakan jasa pendakian ke Cartensz mengaku pendakian Gunung Cartensz masih sulit dijangkau.

Seperti, Leny Surya Martiana yg bekerja sebagai Manajer Keuangan Akutansi di PT. Surveyor Indonesia mengaku mengeluarkan biaya sekitar Rp 55 juta bagi mendaki Gunung Cartensz. Menurutnya, hal itu lantaran lokasi Gunung Cartensz yg sulit dikunjungi.

“Ada kultur-kultur masyarakat di sana yg belum teredukasi. Kalau telah terorganisasi mungkin murah. Risiko-risiko yg tidak terduga juga jadi alasan,” kata Leny yg bulan Mei berhasil menapaki puncak Gunung Cartensz bersama empat pendaki asal Adventure & Rescue Team, Surveyor Indonesia kepada KompasTravel ketika ditemui acara “Re-Opening Patagonia Outdoor Store & Sharing Experience Carstensz Pyramid” di Jakarta, Minggu (25/9/2016) malam.

Hal serupa diakui oleh anggota pencinta alam Korpala Universitas Hasanuddin, Baso Hamdani. Ia menyebutkan, mahalnya pendakian Gunung Cartensz karena belum adanya akses keterbukaan keterangan dan publikasi kepada pendaki gunung.

KOMPAS/MUHAMMAD SUDARTO Puncak Carstensz Pegunungan Jayawijaya yg terus bersalju

Banyak orang yg pikir termasuk aku bahwa buat ke Cartensz lebih mahal. Perbandingan ke Nepal. Indikasinya, banyak teman-teman petualang kalian yg lebih memilih ke Nepal bagi kemudian ke Himalaya daripada Carstensz di Papua,” ungkap Baso.

Baso membayangkan, biaya pendakian ke Gunung Carstensz berkisar sekitar 70-100 juta sekali perjalanan. Mahalnya biaya pendakian Gunung Carstensz juga diakui oleh pendaki gunung yg juga anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Alaska Aceh, Surya Dipa.

Saya setuju seandainya Carstensz dianggap sebagai gunung yg agak mahal. Namun menurut saya, itu juga wajar karena mungkin akses ke sana yg mungkin membutuhkan biaya besar selain bagi perlengkapan dan juga biaya porter,” jelas Dipa.

Pendaki gunung wanita yg juga anggota organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat, Ega Tiara mengatakan, pendakian Gunung Carstensz terbilang cukup mahal baginya yg masih berada di tingkat mahasiswa.

Dedi Alloy/Mapala UI Fandhi Ahmad dan Dedi Alloy di puncak Carstensz Pyramid usai memasang plakat peringatan Hartono Basuki.

“Menurut keterangan juga medan Gunung Carstensz bervariasi vegetasinya. Butuh persiapan fisik dan manajemen perjalanan yg sedikit berbeda dengan gunung yg lainnya khususnya dengan seven summits (Indonesia) yg lainnya. Karena bedanya persiapan-persiaspan itu ya sedikit sebanyaknya berpengaruh dengan kesiapan finansial juga. Semoga suatu ketika mampu ke Gunung Carstensz,” kata Ega.

Pendaki gunung sekaligus Marketing Staff di Indonesia Expeditions, Alvin Egie Perdana menjelaskan, banyak pendaki yang berasal Indonesia yg melihat Gunung Carstensz cuma sebagai impian belaka. Hal itu karena mahalnya biaya pendakian ke Gunung Carstensz.

“Gunung Carstensz memang mampu julukan gunung yg mahal. Lebih mahal jadi lebih baik ke luar negeri. Yang membuat mahal itu, aksesnya sulit. Ke sana mesti pakai pesawat dan juga sampai sana harus sewa pesawat lagi,” jelas laki-laki anggota Mahasiswa Pencinta Alam Himpala Universitas Nasional Jakarta yg akrab disapa Egie ini.

Sementara, Pemilik Operator Pendakian Patagonia Adventure Travel, Fandhi Achmad atau akrab disapa Agi ini mengatakan, Gunung Carstensz memang terkendala dari segi keamanan. Hal itu menurut anggota menyebabkan, banyaknya pungutan liar di dua titik sebelum mendaki Gunung Carstensz.

KOMPAS/HARRY SUSILO Kamp terakhir tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia di Lembah Danau-Danau Pegunungan Jayawijaya, Papua, Rabu (21/4/2010). Kawasan di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini yaitu tempat menginap terakhir sebelum puncak Carstensz Pyramid atau Ndugu-Ndugu (4.884 mdpl). Tim inti ekspedisi Tujuh Puncak Dunia berhasil mencapai puncak Ndugu-Ndugu pada Minggu (18/4/2010).

Biaya tidak terduga itu di Gunung Carstensz mampu banyak. Kadang-kadang mampu dari 100 persen dari harga sebelumnya. Mereka di sana belum ada sistem penggajian porter, mereka belum  teredukasi. Mereka mampu aja nuntut biaya lebih. Kalau gak dikasih dia mau pulang,” ujar Agi yg juga berstatus anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) kepada KompasTravel ketika ditemui acara “Re-Opening Patagonia Outdoor Store & Sharing Experience Carstensz” Pyramid di Jakarta, Minggu (25/9/2016) malam.

Keberadaan Gunung Cartensz terbilang diperhitungkan dalam dunia pendakian gunung di dunia. Pasalnya, Gunung Cartensz termasuk ke dalam tujuh puncak tertinggi di lempengan benua, bersama Mount Everest (Asia), Kilimanjaro (Afrika), Elbrus (Eropa), Aconcagua (Amerika Selatan), Mckinley (Amerika Utara), dan Vinson Massif (Antartika).

Sumber: http://travel.kompas.com