Gunung Carstensz Bukan Untuk Pendaki Pemula, Ini Alasannya..

By | September 28, 2016

JAKARTA, KOMPAS.com – Gunung Carstensz Pyramid di Papua dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl) termasuk ke dalam tujuh puncak tertinggi di dunia. Gunung Carstensz sendiri kemudian menjadi impian banyak pendaki gunung Indonesia bagi mencapai puncaknya.

Namun, impian bagi mampu mencapai puncaknya tidak semudah dibayangkan. Tak sembarang pendaki mampu apalagi pendaki pemula buat mampu menjejakkan kaki di Puncak Carstensz.

“Gunung bukan bagi pemula. Ini gunung yg butuh kemampuan teknik mendaki gunung. Beberapa kali ketemu pendaki seven summits dunia. Mereka bilang Gunung Carstensz lebih susah daripada Everest. Karena dari tujuh puncak dunia, hanya Carstensz yg perlu kemampuan teknik memanjat ketika mau mencapai puncak,” kata Pemilik sekaligus pemandu pendakian dari Patagonia Adventure Travel, Fandhi Achmad kepada KompasTravel ketika ditemui acara “Re-Opening Patagonia Outdoor Store & Sharing Experience Carstensz Pyramid” di Jakarta, Minggu (25/9/2016) malam.

Menurut Fandhi Achmad yg akrab disapa Agi, pendaki mulai akan memanjat tebing dari akan titik Lembah Kuning menuju Puncak Gunung Carstensz. Ia juga menyebutkan, rute pendakian Gunung Carstensz yg terbilang berat buat pendaki pemula.

“Apalagi kalau trekking lewat Jalur Sugapa, rute trekkingnya berat. Kemudian curah hujannya yg membuat berat karena hampir setiap hari hujan,” jelas Agi yg sudah berhasil mencapai puncak Carstensz lebih dari lima kali ini. 

KOMPAS/HARRY SUSILO Kamp terakhir tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia di Lembah Danau-Danau Pegunungan Jayawijaya, Papua, Rabu (21/4/2010). Kawasan di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini yaitu tempat menginap terakhir sebelum puncak Carstensz Pyramid atau Ndugu-Ndugu (4.884 mdpl). Tim inti ekspedisi Tujuh Puncak Dunia berhasil mencapai puncak Ndugu-Ndugu pada Minggu (18/4/2010).

Beratnya medan pendakian mulai dirasakan pendaki selama hampir di selama perjalanan. Agi menceritakan, dalam kondisi hujan, mental pendaki mulai diuji. Belum lagi ditambah dengan menyusuri sungai di dua hari pertama.

“Sampai hari ke empat kalian mulai ketemu sungai. Kita menyeberang sungai-sungai. Jalan di akar-akar pohon yg licin,” sebutnya.

Seorang pendaki gunung dari Adventure & Rescue Team, Surveyor Indonesia, Leny Surya Martina mengakui kesulitan ketika mendaki Gunung Carstensz. Ia mengaku, dirinya adalah orang yg cuma gemar mengikuti ajakan teman bagi mendaki gunung.

“Saya bukan pencinta alam sejati. Kita banyak menyeberang sungai dari pohon. Mulai dari jalan hari kedua itu jembatannya bentuknya pohon melintang. Kita tidak jarang melewati longsoran tanah baru longsor. Itu yg berat untuk mental. Itu takutnya longsor lagi,” cerita Leny.

Selain itu untuk Leny yg sudah lama tidak mendaki gunung, menyeberangi sungai tanpa memakai tali adalah hal yg sangat menguras mental. Tak cuma itu, berpijak pada tanah-tanah yg longsor itu terbilang mengerikan.

KOMPAS/HARRY SUSILO Tim Bravo Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari Wanadri siap menyusuri jalur es puncak Nggapulu atau puncak Soekarno di ketinggian sekitar 4.700 meter di atas permukaan laut (mdpl), kawasan Pegunungan Jayawijaya, Papua, Senin (19/4/2010). Pendakian ke daerah puncak Nggapulu ini sebagai ajang pengenalan medan dan aklimatisasi buat tim sebelum menuju puncak Carstensz Pyramid atau Ndugu-Ndugu yg berada di ketinggian 4.884 mdpl.

“Dari Lembah Danau-Danau, kami mulai ascending (menaiki) dan descending (menuruni) tebing di New Zealand Pass. Itu memanjat 80 derajat tegak lurus, baru sekarang merasa takut,” jelasnya.

Gunung Cartensz dengan ketinggian 4.884 mdpl termasuk ke dalam tujuh puncak tertinggi di lempengan benua, bersama Gunung Everest, Asia; Kilimanjaro di Afrika dengan ketinggian 5.885 mdpl; Elbrus di Eropa dengan ketinggian 5.642 mdpl; Aconcagua di Amerika Selatan dengan ketinggian 6.962 mpdl; McKinley di Amerika Utara dengan ketinggian 6.670 mdpl, dan Vinson Massif di Antartika dengan ketinggian 5.535 mdpl.

Sumber: http://travel.kompas.com