Tinutuan, Kala Beraneka Rasa Gurih Sayur Beradu Di Lidah

By | September 29, 2016

MANADO, KOMPAS.com – Mengunjungi Manado atau Minahasa di Sulawesi Utara, tidaklah lengkap seandainya belum mencicip kuliner khas daerah ini. Tinutuan atau Bubur Manado, orang menyebutnya.

Jangan khawatir, kuliner yg sesuatu ini dijamin halal, karena terbuat dari berbagai sayuran hijau yg dipadukan dengan bubur beras, labu dan ubi. Walau sewaktu disajikan kelihatan berantakan, namun Tinutuan yaitu masakan yg lezat.

Jika berada di Manado, Pusat Kuliner Wakeke yaitu tempat yg sangat ideal bagi mencicipi Tinutuan. Di lokasi yg berada di pusat kota ini, puluhan rumah makan menawarkan kelezatan Tinutuan dengan aneka variasinya.

Di Wakeke, cecap lidah terhadap gurihnya berbagai sayur hijau di Tinutuan bersanding dengan mie, tahu goreng, tempe goreng, bakwan bahkan perkedel jagung dan nike (sejenis ikan kecil). Tinutuan sangat pas seandainya disantap pada pagi hari sebagai menu sarapan.

Berbagai vitamin yg terkandung di dalamnya menjadi energi untuk aktifitas sepanjang hari. Ahli Gizi di Rumah sakit Siloam Manado, Femmy Feibe Monulandi AMG menjelaskan bahwa Tinutuan mengandung nilai gizi yg tinggi terutama karbohidrat yg terdapat di umbi-umbian.

“Sayurannya mengandung serat vitamin dan minereal serta serat yg baik buat pencernaan. Bahkan vitamin di labu siam mampu mencegah jantung koroner,” jelas Femmy.

Tinutuan dapat dibilang tergolong makanan yg sehat karena makanan ini tak mengandung daging. Tinutuan sangat pas disantap dengan dabu-dabu (sambal) ikan roa (ikan terbang), atau dabu-dabu bakasang (fermentasi perut ikan).

Bagi penyuka terasi, tinutuan juga cocok ditemani sambal terasi. Hingga kini belum diketahui persis yang berasal mula Tinutuan, baik sejarahnya maupun yang berasal muka katanya. Dari dua catatan, Tinutuan akan diperdagangkan sejak tahun 1970.

Saking terkenalnya Tinutuan sebagai makanan yg berasal dari Manado, sewaktu Jimmy Rimba Rogi menjadi Walikota Manado periode 2005-2010, ia memberi slogan Manado sebagai Kota Tinutuan.

Tinutuan diduga yaitu bentuk kreativitas orang Minahasa dahulu yg keadaan ekonomi para penduduknya sangat sulit ketika di bawah penjajahan Belanda. Karena sulit mendapatkan makanan, penduduk waktu itu kemudian memanfaatkan bahan makanan yg mereka mampu peroleh dari pekarangan dan kebun. Bahan-bahan makanan itu seperti ubi, kangkung, jagung, daun gedi, bayam, serta labu.

Mereka dulu memasaknya dengan mencampurnya bersama nasi secara bersamaan. Kini ragam campuran Tinutuan telah sangat bervariasi. Mengolah masakah Tinutuan juga tak sulit. Hampir segala orang dapat memasak Tinutuan. Bahan-bahannya gampang didapat di pasar tradisional atau seandainya sendang berada di Minahasa dapat segera membeli pada petani di kebun.

Tahun ini, Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Utara sedang mengusulkan Tinutuan menjadi salah sesuatu warisan budaya tidak benda dari Sulut.

“Sesuai dengan tugas kami, kita coba mengusulkan agar Tinutuan diakui sebagai warisan budaya tidak benda dari Sulut. Selain Tinutuan, kita juga mengusulkan kesenian khas Nusa Utara, Masamper,” kata Kepala BPNB Sulut Rusli Manorek.

Jadi, seandainya Anda berencana melakukan perjalanan ke Manado, jangan sampai tak mencecap Tinutuan. Masakan khas ini juga diakui sebagai masakan perekat persaudaraan, karena hadir di tiap kesempatan.

Sumber: http://travel.kompas.com