Mau Lihat Suku Asli Pedalaman Thailand? Ini Tempatnya…

By | September 30, 2016

CHIANG MAI, KOMPAS.com – Hill tribes, begitu sebutan warga Thailand buat suku-suku yg tinggal di pegunungan bagian utara. Tak cuma Thailand, dua suku tiba dari daerah perbatasan Myanmar dan Laos. Mereka menetap di pedalaman utara Thailand demi bertahan hidup.

Layaknya Suku Baduy di Indonesia, hill tribes di Thailand juga masih hidup dengan cara tradisional. Mereka mengenakan pakaian khas, melakukan tradisi turun-temurun seperti menenun pakaian. Para lelakinya turun ke sawah atau kebun sebagai mata pencaharian. 

Namun, seiring perkembangan zaman, banyak hill tribes yang terancam eksistensinya. Hal inilah yg dimanfaatkan pemerintah Thailand buat membangun Baan Tong Luang, alias Eco-Agricultural Hill Tribes Village.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Ada tujuh suku yg tinggal di desa ini merupakan Karen, Lahu Shi Bala, Palong, Hmong, Kayaw, Akha, dan Mien.

Baan Tong Luang terletak di Maerim-Samoeng Road, dekat dengan Mae Sa Elephant Camp di Chiang Mai. Ini adalah desa wisata tempat tinggalnya tujuh hill tribes, yang kini pendapatan utamanya dari sektor pariwisata.

“Ada tujuh suku yg tinggal di desa ini. Ada sekitar 20 kelompok seandainya ditotal,” tutur Paiboon Pramuankarn, pemandu wisata yg mengantar KompasTravel dan rombongan dari Tourism Authority of Thailand (TAT) mengelilingi Chiang Mai dua waktu lalu.

Tujuh suku tersebut adalah Karen, Lahu Shi Bala, Palong, Hmong, Kayaw, Akha, dan Mien. Suku yg paling banyak diincar, dan tentunya difoto adalah Karen. Para wanita Suku Karen mengenakan kalung bertumpuk-tumpuk. Mereka melakukan tradisi ini sejak masih gadis. Semakin panjang leher, semakin cantik mereka di mata pria.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Wanita suku Karen yg tinggal di bagian utara Thailand.

Tibet adalah daerah yang berasal Suku Karen. Mereka kemudian “hijrah” ke China, kemudian Myanmar, dan sempat konflik dengan pemerintah Myanmar. Itulah mengapa, pada akhirnya, mereka mencari keberuntungan di Negeri Gajah Putih. 

Hampir seluruh suku asli Thailand milik kerajinan tangan berupa tenun. Semua wanita hill tribes bisa menenun. Mereka menenun kain buat digunakan sebagai pakaian, topi, hingga selimut dan kaus kaki.

Tujuh suku itu tersebar di desa yg cukup luas, lengkap dengan pesawahan dan lumbung padi. Bertani adalah mata pencaharian penting para pria hill tribes. Kincir air dapat ditemukan di dua titik.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Pedesaan di Chiang Mai, Thailand.

Menyusuri tiap suku di Baan Tong Luang butuh waktu yg tak sedikit. Apalagi setiap pemilik rumah memersilakan pengunjung bagi memotret (tanpa membayar) bahkan masuk ke dalam rumahnya.

Di teras rumah, berderet aneka suvenir khas utara Thailand. Tenun, perhiasan, gelang etnik, sampai magnet kulkas mampu ditemukan di sini. Harganya memang lebih mahal dibanding di Chiang Mai Night Bazaar. Namun tidak ada salahnya Anda membeli suvenir tersebut buat menolong perekonomian para suku ini. 

Jika Anda pikir ini mengumpulkan suku-suku asli Thailand sebagai sumber pendapatan wisata yaitu cara yg tidak lazim, tiba dan lihatlah sendiri.

“Suku Karen misalnya, tiba dari perbatasan Myanmar dan telah lama menetap di Thailand. Di sana mereka tak terurus, sulit bagi mendapatkan uang. Di sini mereka hidup lewat wisata, masih dengan tradisi asli mereka,” tambah Paiboon yg akrab dipanggil Jack.

Sumber: http://travel.kompas.com