Menginap Di Kamar Seharga Rp 2 Juta Per Malam Di Pegunungan Tengah Papua

By | October 3, 2016

Ungkapan bahwa terus ada hal baru dalam setiap perjalanan memang tak salah. Itulah yg dirasakan oleh Kompas.com saat berkunjung ke Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua.

Kompas.com mengunjungi daerah nan eksotis itu pada pertengahan September lalu. Perjalanan yg dimulai dari Jakarta, transit di Bali, dulu dilanjutkan ke kota Timika itu memakan waktu sekitar 8 jam perjalanan.

Karena kalian berangkat tengah malam, maka ketika sampai di Bandara Mozes Kilangan, Timika, kalian disambut pagi. Untunglah hari itu cuaca cerah, karena dari sini kalian harus menumpang pesawat perintis agar dapat sampai ke wilayah pegunungan.

Nah, petualangan sebenarnya dimulai dari sini. Hati aku segera berdebar ketika melihat pesawat yg mulai mengangkut kami. Pesawat itu kecil saja, cuma mampu ditumpangi 7 orang. Warnanya putih ungu dengan baling-baling di moncongnya. Saya berpikir, bagaimana kalau sesuatu mesin baling-baling ini tiba-tiba macet?

Saat aku masih terheran-heran, tiba-tiba kalian diminta buat menimbang badan.  Ternyata selain barang bawaan, penumpang pun harus diukur beratnya buat menyesuaikan dengan batas bobot maksimal pesawat. Untunglah bobot aku masih masuk. Fiuuuh…

Akhirnya kalian pun diminta masuk pesawat. Ternyata penumpangnya cuma kalian saja bertujuh. Tidak ada orang yang lain di luar rombongan kami. Ke mana orang-orang lain? Tidak adakah warga setempat yg naik pesawat?

Ternyata aku langsung mendapat jawabannya. Rupanya kita menaiki pesawat yg disewa khusus bagi rombongan ini. Bila memakai jadwal penerbangan umum yg harga tiketnya sekitar Rp 700 ribu per orang, kita harus menunggu antrean terbang hingga 3 bulan ke depan.

Menurut keterangan dari dua orang yg aku temui, dengan jalur khusus ini, harga carter pesawat itu mencapai Rp 35 juta buat sekali terbang! Padahal lama penerbangan cuma sekitar 25 menit saja buat sampai ke Distrik Ilaga.

Meski perjalanan sangat pendek, namun naik pesawat kecil di wilayah pegunungan ini sungguh yaitu pengalaman tek terlupakan. Pesawat tidak henti bergoyang karena dihempas angin. Suara mesinnya terdengar sampai kabin. Rrrrrrr…..

Untung rasa ngeri itu terbayar oleh pemandangan menakjubkan Gunung Cartenz dan pegunungan tertutup hutan yg diselimuti awan.

Penginapan Rp 2 Juta semalam

Sesampai di Distrik Ilaga kita diantar menuju sebuah bangunan yg terbuat dari kayu. Bangunan itu tampak lebih baru dibanding rumah-rumah yang lain yg kita jumpai. Ternyata itu penginapan kalian selama di Ilaga.

Menurut warga sekitar, bangunan sederhana itu adalah yg terbaik di sini. Konon biaya pembangunannya mencapai Rp 3 miliar. Ya, miliar. Saya sendiri tak habis pikir, bagaimana uang sebanyak itu “hanya” menghasilkan bangunan seperti ini.

Saya makin kaget ketika diberi tahu bahwa biaya penginapan per kamar Rp 2 juta per malam. Saya menduga-duga seperti apa ya bagian dalamnya.

Saat memasuki kamar, kalian terkejut melihat apa yg ada di dalamnya. Jangan bayangkan tempat tidur mahal dan furniture mewah tersedia di kamar tersebut. Kami cuma mendapati sepasang kasur busa dan dinding kamar berupa tripleks tipis. Tapi kita maklum, keadaan seperti ini disebabkan karena wilayah itu sangat terpencil dan tak gampang dikunjungi.

Setelah sejenak berada di kamar, kita langsung ingin melihat suasana pegunungan. Cuaca yg sangat dingin, dan hujan yg kadang turun memberikan tantangan berbeda selama berkunjung di Distrik Ilaga ini. Sore hari berasa sangat cepat, dan cuaca langsung menjadi gelap. Kabut yg turun tidak mengurangi sepi suasana kota yg sangat jauh dari keramaian ini.

Keesokan harinya kalian mengunjungi pasar tradisional Kago, satu-satuya pasar yg ada di Distrik Ilaga. Pasar ini cuma ramai pukul 08.00 hingga pukul 12.00. Selain hasil bumi, di sana juga dijual berbagai bahan makanan yg dibawa dari luar daerah itu. Namun tentu saja harganya berbeda.

Baca juga: Warna-Warni Pasar Tradisional Kago di Pegunungan Distrik Ilaga

Beras Bulog misalnya, dibandrol dengan harga Rp 500 ribu per 15 kg, gula pasir Rp 30 ribu per 6 ons, minyak goreng Rp 50 ribu per liter dan air mineral kemasan kecil Rp 15 ribu, ukuran sedang 600 ml dihargai Rp 25 ribu, sedangkan yg besar ukuran 1 liter harganya Rp 60 ribu.

Melihat harga-harga itu, akhirnya kalian tak jadi belanja apa-apa.

Tidak cuma harga sembako yg tinggi, harga BBM pun sangat tinggi. BBM macam Premium, Solar dan minyak tanah harganya sama, Rp 50 ribu per liter.

Hal itu pula yg menyebabkan tarif ojek menjadi sangat mahal, yakni Rp 50 ribu setiap 2 km.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Pesawat macam DHC – 4 T Turbo Caribou punya Pemda Kabupaten Puncak Papua

Tingginya harga sembako, BBM dan kebutuhan pokok yang lain yaitu akibat mahalnya biaya angkut.  Ini disebabkan belum adanya akses jalan darat ke sana, sehingga pengangkutan cuma dikerjakan melalui jalur udara merupakan memakai pesawat perintis yg kapasitas angkutnya cuma 1,3 ton.

Namun ketika ini di Distrik Ilaga sudah dibangun SPBU, dan menjadikan harga bensin macam Premium  turun drastis dari Rp 50 ribu menjadi Rp. 6.500 per liternya.

Setelah hadirnya SPBU, Pemda Kabupaten Puncak Papua memiliki sebuah pesawat macam DHC – 4 T Turbo Caribou, sebuah pesawat kargo yg dikhususkan dengan kapasitas 4 ton buat menggangkut barang. Pesawat ini jauh lebih besar dari pesawat-pesawat yang lain yg mendarat di sana.

Masyarakat berharap hadirnya pesawat ini mampu mengatasi mahalnya harga sembako, BBM dan kebutuhan pokok lainnya.

Baca: Upacara Bakar Batu Tandai Murahnya BBM di Puncak Papua

Menurut Bupati Kabupaten Puncak, Willem Wandik, adanya pesawat baru ini yaitu solusi cepat dalam mengatasi keterisolasian, dan berdampak besar untuk pertumbuhan perekonomian masyarakat di Kabupaten Puncak Papua.

Saya jadi membayangkan, mungkin dua bulan ke depan, kamar seharga Rp 2 juta yg aku tempati bakal dilengkapi fasilitasnya menjadi lebih “layak” dihargai dengan uang sebesar itu.

Kompas Video Upacara Bakar Batu di Puncak Papua

Sumber: http://travel.kompas.com