Menikmati Seporsi Mi Kelor Di Banyuwangi

By | October 3, 2016

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Suka menikmati mi ayam? Tidak ada salahnya menikmati salah sesuatu mi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Namanya adalah mi kelor yg terbuat dari sari pati daun kelor atau Moringa oleifera dan yaitu tumbuhan dari macam suku Moringaceae.

Selain berwarna hijau cerah, mi kelor kreasi Nuri Dwi Suryani (41) warga perumahan Araihan Kelurahan Karangrejo, Kabupaten Banyuwangi ini mengandung gizi yg sangat tinggi.

Daun kelor dipercaya mengandung 3 kali potasium dari pada pisang, 4 kali vitamin A dari wortel, 25 kali zat besi dari pada bayam, 7 kali vitamin C jeruk, 4 kali kalsium susu, dan 3 kali protein yoghurt.

Kepada KompasTravel, Minggu (2/10/2016), Nuri mengaku ide membuat mi dari daun kelor muncul saat anaknya tak menyukai sayuran. Dia kemudian memutar akal agar anaknya mau makan sayur.

Akhirnya Nuri memakai campuran saripati daun kelor ke dalam bahan penting pembuatan mi. Kebetulan suami dan anaknya adalah pecinta mi ayam.

“Awalnya aku coba-coba. Pernah memakai kangkung tetapi hasil minya tak bagus dan ada juga pelanggan yg bilang tak makan kangkung. Pernah juga pakai bayam selalu ada yg bilang katanya linu-linu kalau makan bayam. Akhirnya yg netral ya kelor. Apalagi kelor kan banyak kandungan gizinya,” jelasnya.

Biasanya sesuatu kilo bahan mi mulai dicampur dengan saripati yg diambil dari 6 ranting daun kelor. Nuri memilih yg memakai daun yg tak terlalu muda dan tak terlalu tua sehingga warna yg dihasilkan cukup bagus.

“Daun kelor aku blender dengan air kemudian dicampur dengan tepung dan bahan lainnya. Gitu saja. Sederhana,” katanya.

Untuk membuat mi, Nuri dibantu oleh suaminya Slamet (46). Pasangan suami istri tersebut membuat mi di rumahnya sendiri dan menerima pesanan pembuatan mi dari orang lain.

Setelah uji mencoba membuat mi kelor, Nuri yg telah tiga tahun berjualan mi ayam di Pasar Pujasera Karangrejo Banyuwangi tersebut memberanikan diri memasukkan mi kelor dalam menu di warung mi ayamnya sejak 4 bulan terakhir.

“Kalau ada yg pesen biasanya aku tawarin mau mi ijo. Biasanya pelanggan tanya warna hijaunya pake pewarna apa nggak? Di situ aku bilang warna hijaunya dari daun kelor,” jelasnya.

Nuri mengaku tak kesulitan buat mencari dan kelor karena banyak di sekitar pekarangan rumahnya. “Nggak usah beli. Jadi harganya mi kelor atau mi yg biasa ya sama saja, Rp 6.000 per porsi,” katanya.

Karena tak memakai pengawet, mi punya Nuri cuma bertahan maksimal beberapa hari. Seporsi mi kelor punya Nuri memiliki tekstur yg kenyal dan lembut ketika disantap apalagi dilengkapi dengan topping potongan daging ayam yg cukup banyak.

Sumber: http://travel.kompas.com