Wanita Cantik Ini Sukarela Bersihkan Vandalisme Di Gunung Indonesia

By | October 4, 2016

JAKARTA, KOMPAS.com – Meski mengikrarkan diri sebagai “pecinta alam”, tidak banyak orang Indonesia yg menjalankannya sepenuh hati.

Banyak gunung di Indonesia penuh sampah dan vandalisme. Hal itulah yg ditemukan Luluk Kartikawati begitu pertama kali datang di Gunung Rinjani, Lombok. Begitu datang di gunung tersebut, alangkah kagetnya Lulu, gunung itu ternyata tak seindah yg kami bayangkan.

“Benar-benar kecewa, ternyata tak seperti yg dibilang banyak orang. Kondisinya udah kotor,” ujar Luluk ketika dihubungi KompasTravel, Minggu (2/10/2016).

Luluk terhenyak dan kecewa ketika menemukan Gunung Rinjani ternyata sangat kotor oleh sampah yg berserakan di sepanjang jalur maupun di tempat kemah. Sampah didominasi oleh bungkus makanan yg dibuang begitu saja.

“Padahal ada tulisannya di situ, ‘Dilarang membuang sampah sembarangan’. Tapi ya gitu, malah tulisannya itu ditempel-tempel stiker,” tutur Luluk dengan nada kecewa.

Usai Rinjani, Luluk menginjakkan kaki di Gunung Lawu (Jawa Timur) pada 2011. Dua tahun kemudian, dia kembali mendaki Lawu dan menemukan gunung tersebut tak sebersih dulu.

“Kali kedua ke sana, keadaan Gunung Lawu kotor banget. Tidak cuma sampah tetapi juga coretan. Nah dari situ, saya kepikiran buat melakukan kegiatan bersih-bersih,” tutur Duta Wisata Sragen 2015 ini.

Luluk kemudian membuat gerakan CAV OT MOUNTAIN (Clean Art Vandalism On The Mountain). Namun dirinya tak mau menyebut bahwa CAV OT MOUNTAIN adalah komunitas, karena siapa pun yg mau bergabung bebas bagi masuk dan keluar.

 

INSTAGRAM/LULU_KARTIKA Lulu Kartikawati ketika beraksi membersihkan vandalisme di gunung.

Perempuan berumur 23 tahun ini tak memungut biaya sama sekali buat melakukan pembersihan. Lulu menyiapkan seluruh bahan pembersih kotoran dan cat, tiner misalnya. Perempuan sesuatu ini menyiapkan seluruh bahannya sendiri karena tak ingin membebani relawan yg mau ikut bersih-bersih.

“Aku pokoknya nggak pungut biaya. Mereka mau ikut saja udah syukur, jadi bahannya telah saya sediakan. Tapi saya juga melarang sering mereka juga ada yg mau bawa sendiri tinernya,” tutur perempuan yang berasal Solo ini.

Walaupun belum sepenuhnya mampu membersihkan segala jalur di Gunung Lawu, Luluk merasa puas dirinya dan bantuan dari relawan bisa membersihkan banyak spot vandalisme. Biasanya, rombongan yg terdiri dari 10 orang disebar di dua titik bagi melakukan pembersihan.

“Walaupun sedikit orangnya, yg utama efektif. Waktu itu saya ikut acara bersih-bersih, yg ada peserta foto-foto saja semua,” cerita Luluk kepada KompasTravel.

Selain membersihkan batu yg dicoret dengan cat semprot, Luluk dan relawan juga mengumpulkan sampah yg berserakan. Masing-masing orang bisa membawa sesuatu kantong plastik sampah besar per orang. Sampah yg dibawa beragam dari akan bungkus makanan, sisa-sisa makanan dan masih banyak lagi.

“Ya ada coret-coret batu pakai cat semprot, tempel-tempel stiker komunitas mereka. Padahal yg biasanya meninggalkan tanda itu dari nama komunitas pencita alam. Cuma namanya saja pecinta alam, tetapi gak menjaga alam,” tutur Luluk.

Luluk dengan tulusnya ingin membersihkan area objek pendakian. Dirinya membebaskan siapa saja yg ingin ikut tanpa dipungut biaya. Dengan berusaha sebaik mungkin, Lulu dengan relawannya ingin betul-betul menjaga alam.

“Kalau bukan kita, siapa lagi mau jaga. Saya tak memaksa para pendaki bagi ikut kegiatan saya. Setidaknya, tak membuang sampah sembarangan apalagi mencorat-coret,” tutur Luluk.

Sumber: http://travel.kompas.com