Kenapa Turis Amerika Serikat Tidak Berkunjung Ke Indonesia?

By | October 4, 2016

KOMPAS.com – Ada anggapan wisatawan yang berasal Amerika Serikat kurang berminat berlibur ke Indonesia. Seorang profesor di bidang humaniora dari Universitas Maryland di Amerika Serikat, Barbara Russell menyebutkan cuma sedikit wisatawan Amerika Serikat yg berkunjung ke Indonesia.

“Lebih dari 75 juta warga Amerika Serikat pergi ke luar negeri setiap tahun. Hanya sekitar 7 persen yg mengunjungi Asia, itu sekitar 5 juta orang. Namun, cuma sebagian kecil dari jumlah tersebut yg mengunjungi Indonesia,” ungkap Barbara dalam tulisannya buat The Jakarta Post.

Ia menyampaikan wisatawan Amerika Serikat yg tiba ke Indonesia umumnya cuma fokus berkunjung ke Bali yg sudah memang dikenal sebagai destinasi wisata secara global. Mayoritas wisatawan Amerika Serikat menurut Barbara mengenal Bali sebagai negara berbentuk pulau dan beriklim tropis di kawasan Pasifik.

“Ketika aku kembali ke Kanada, tempat yang berasal aku dan ke Amerika Serikat tempat aku 20 tahun tinggal, sebagian besar mengenal Bali sebagai negara di kawasan Pasifik. Faktanya, Bali adalah bagian dari negara Indonesia yg memiliki populasi terbesar keempat di dunia dan pasti mulai mengejutkan masyarakat khususnya di belahan utara Amerika,” tulisnya.

Lalu mengapa wisatawan Amerika Serikat kurang berminat mengunjungi Indonesia? Barbara memiliki analisis terkait hal tersebut.

Sony Pictures Film “Eat, Pray, Love” yg berlatar di Ubud, Balli.

Hubungan sejarah dan budaya

Barbara menyebutkan ada dua hubungan sejarah dan budaya yg terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Asia. Seperti terkait sejarah peperangan AS di Vietnam dan Kamboja.

“Amerika berperang di Vietnam dan Kamboja dan menyambut baik kelompok besar pengungsi setelah mereka perang merupakan keluarga yg kini kembali ke tanah air mereka secara teratur. Kehadiran militer besar kita (Amerika) di Filipina dan Thailand membangun hubungan secara alami di sana dan menciptakan sejumlah besar pernikahan,” ujar Barbara.

Selain itu, perantau dari negara-negara Asia di Amerika Serikat juga memiliki hubungan erat. Ia menjelaskan imigran-imigran dari China turut menolong rel kereta api di Amerika Utara. Hal itu menjadikan budaya-budaya China turut ambil bagian dari warisan budaya Amerika Serikat.

“Juga tak cuma karena jumlah dan suksesnya diaspora imigran Jepang di AS, tapi juga ada kesan berkelas hal-hal terkait Jepang seperti arsitektur dan desain taman, Zen Buddhisme, sushi (dan makanan Jepang pada umumnya), seni bela diri, film dan sastra tercermin di Amerika Serikat,” jelas Barbara.

Di sisi lain, ia memandang Indonesia tetap tidak diketahui. Hanya sangat sedikit imigran Indonesia di Amerika Serikat. “Terlepas dari film The Year of Living Dangerously dan Eat Pray Love yg mengambil lokasi di Bali dan tentu musibah tsunami Aceh tahun 2004, Indonesia tidak muncul di radar Amerika Serikat,” ungkapnya.

Pemberitaan negatif dan sampah

Pemberitaan negatif tentang Indonesia turut berpengaruh terhadap minat wisatawan Amerika Serikat tiba ke Indonesia. Ada juga dua hal-hal negatif yg muncul di berita-berita dunia, termasuk apa yg disebutkan oleh Kontributor The Jakarta Post, Duncan Graham merupakan Indonesia adalah negara yg “melukai diri sendiri”,

Salah satunya terkait hukumat mati bagi kejahatan narkoba. Menurut Barbara, hal itu tak berarti turis AS mulai menyembunyikan narkoba dalam tasnya. Namun, ia memandang penegakan hukum semacam itu dapat mempengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih negara yg menjadi destinasi wisatanya.

Masalah yang lain yg mengganggu banyak wisatawan adalah sampah di Indonesia. Menurut Barbara, persoalan sampah di AS terjadi pada tahun 1950-an dan pada ketika tersebut siapapun yg tertangkap membuang sampah mulai kena denda dan diminta bagi melakukan pelayanan masyarakat.

“Menjadi hal yg tak mengherankan ketika kemudian wisatawan Amerika tercengang dan muak dengan sampah yg berserakan di kota-kota di Indonesia. Orang Indonesia sepertinya tak persoalan saat melempar sampah di tanah atau di sungai atau menyeberang melalui tumpukan sampah di sisi jalan,” jelas Barbara.

Menurutnya, banyak wisatawan dari negara-negara Barat kagum dan tertarik terhadap adat, kekhasan, dan kehangatan masyarakat Indonesia. Namun, hal itu seakan hilang ketika melihat dan mencium bau sampah.

Selengkapnya mengenai tulisan Barbara Russell di The Jakarta Post ini mampu dibuka dalam artikel “Why American tourists don’t come to Indonesia”.

 

Sumber: http://travel.kompas.com