Bisnis “Surfing” Di Bali Menjanjikan, Tetapi…

By | October 5, 2016

DENPASAR, KOMPAS.com – Peminat wisata bahari di Bali cukup banyak, baik dari kalangan wisatawan domestik maupun internasional. Provinsi Bali yg berupa pulau memiliki kawasan laut yg indah dan asyik bagi surfing atau selancar.

Surfer dan pelatih handal bernama Irawan atau lebih dikenal dengan panggilan Piping menyayangkan pemerintah daerah tak memanfaatkan lahan tersebut buat pendapatan daerah. Selain pemerintah daerah memiliki tambahan pendapatan, para surfer yg memiliki bisnis di sektor pariwisata ini mampu tertata dan merasa diperhatikan dengan baik.

“Bisnis surfing di Bali itu menjanjikan. Sangat potensial. Seperti penyewaan papan surfing maupun school surf. Itu mampu tidak mengurangi pendapatan daerah loh, sebenarnya ada pajak yg harus dibayarkan, tetapi belum memaksimalkan potensi yg ada,” kata Piping, Denpasar, Bali, Minggu (2/9/2016).

Separuh dari kawasan perairan di Bali merupakan bagian selatan sangat disukai bagi dijadikan lokasi surfing. Dari perairan Kabupaten Jembrana yg lokasinya di Bali bagian barat hingga di perairan Kabupaten Karangasem yg terletak di Bali bagian timur, sangat potensial dikelola dengan baik dan saling memberikan dukungan baik otoritas pemerintah daerah dan pelaku pariwisata.

Sepanjang pantai selatan dari Kabupaten Jembrana hingga Kabupaten Karangasem terdapat 200 tiitk yg disukai wisatawan buat surfing. Dari 200 titik terdapat dua penyewaan papan surfing dan school surf yg ketika ini sangat berkembang dan maju.

Sewa papan surfing per jam cuma Rp 50.000 sementara kalau sekolah surfing per beberapa jam mampu bertaraf sampai Rp 3,5 juta.

“Bukan kami minta perhatian, tetapi kalian memberitahukan pengelolaan market surfing di Bali. Aturan main belum dibuat oleh Pemda. Ini sangat potensial sekali,” tegasnya.

Piping juga menjelaskan bahwa surfing yaitu kekuatan di sektor pariwisata. Hal ini terbukti ketika peristiwa Bom Bali 1 pada 12 Oktober 2002 dulu yg meluluhlantakkan sektor pariwisata di Bali. Saat itu, sebagian besar negara melarang warganya berkunjung ke Bali. Sektor pariwisata terganggu, tapi menurut Piping, dunia surfing tetap berjalan.

“Ketika Bom Bali 1, pariwisata sempat mati. Banyak wisatawan dilarang ke Bali. Tapi, pecinta surfing yang berasal dua negara, nekat tiba ke Bali melalui Singapura, mereka tiba surfing dan memberikan dukungan kepada Bali. Luar biasa kekuatannya,” ujarnya.

KOMPAS.com/SRI LESTARI Wisatawan mulai surfing di Pantai Kuta, Bali

Bagi dua wisatawan, surfing di Bali dipandang mengasyikkan. Contohnya Ariska, wisatawan yang berasal Bogor.

“Saya kedua kalinya main surfing di sini. Dulu aku takut, diajarin dan dituntun ketika main, jadinya senang. Jadi kalau ke Bali ya mencoba main surfing,” kata Ariska, ditemui usai surfing di Pantai Kuta.

“Saya suka Bali. Saya suka main (surfing) di sini, biasanya aku di Tulamben (Karangasem),” kata Andrew yang berasal Australia yg telah puluhan kali tiba ke Bali.

“Murah kok hanya Rp 50 ribu per jam. Kalau sewa lebih lama malah diberi bonus waktu,” kata Sofian, wisatawan yang berasal Bogor.

Sementara bisnis sewa papan surfing juga cukup menjanjikan. Misalnya sehari penyewa mampu menyewakan beberapa sampai lima papan, mampu jadi lebih dari itu seandainya musim liburan.

“Kalau hati biasa sih paling satu, beberapa atau tiga. Pernah sehari lima papan disewa. Tapi kalau ramai liburan ya dapat lebih,” kata Dek Ar, pemilik papan surfing di Pantai Kuta.

Lokasi perairan Bali yg di sukai wisatawan bermain surfing di antaranya di Pantai Medewi, Pantai Legian, Pantai Kuta, Pantai Nusa Dua, Pantai Jimbaran, Pantai Tulamben, Pantai Nusa Penida dan masih banyak lagi titik-titik yg ombaknya bagus bagi surfing

Sumber: http://travel.kompas.com