Mau Sensasi Masakan Kampung Era 70-an, Datanglah Ke Kafe Rumah Pohon

By | October 8, 2016

MEDAN, KOMPAS.com – Sore yg mendung, tampaknya Kota Medan mulai diguyur hujan deras. Bersama Rara, saya bergegas menyusuri jalanan padat dulu lintas. Hari ini saya ingin duduk santai di Kafe Rumah Pohon yg baru buka sekitar tiga bulan lalu, menikmati sate rusa.

Membayangkan daging rusa, saya telah mampu merasakan nikmatnya daging lembut yg dibakar dengan bumbu itu. Ditemani minuman segar pasti makin yahud. Memasuki Jalan Sei Belutu Medan, plang nama Chamil Cake Boutique terlihat, ini lah tujuanku.

Dari luar, tidak kelihatan ada keramaian, tertutup pagar dan pepohonan yg rimbun. Tapi begitu lewat gerbang, kelihatan puluhan kendaraan parkir, terdengar suara denting piring beradu sendok, senda gurau, serta dendang manis yg dimainkan segera oleh beberapa laki-laki pemetik gitar dan biola.

Semua aktivitas itu berlangsung di teras dan di dalam rumah kayu beberapa lantai yg bertengger di sebatang pohon rambutan tua. Lucunya, ketika saya kemari, pohon rambutannya sedang berbuah lebat.

Mata disambut deretan bangku dan meja kayu, kursi besi dengan tambahan bantal, deretan kain khas Indonesia seperti batik dan ulos terpajang di tiap sudut dinding.

Ada keramik-keramik kuno, nampan besar dari kaleng yg eksotis menghias salah sesuatu sudut ruang, jejeran rantang-rantang kaleng bertingkat empat warna-warni, piring dan cangkir hijau juga dari kaleng yg menjadi wadah penganan-penganan yg membuat dahi Rara berkerut karena tidak pernah kenal.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Lisa bersama Rara dengan latar para pengunjung Kafe Rumah Pohon di Medan, Sumatera Utara.

Ah, kok saya merasa lagi di kampung atau kembali ke era 70-an, masa kanak-kanak ketika berkunjung ke rumah nenek. Pengunjung sedang ramai rupanya. Aku sedikit terkejut, buat usaha yg masih hitungan bulan, jarang telah seramai ini.

Mungkin karena nama pemiliknya, Elisa Farah Pane menjadi jaminan bahwa seluruh sajian mulai memuaskan dan terjamin mutunya. Siapa yg tidak kenal perempuan ramah ini, dia lulusan Universitas Brisbane jurusan tata boga yg senang membagi ilmunya untuk siapa saja yg ingin belajar.

Hasil buah tangannya adalah kelezatan dan kesempurnaan cita rasa. Aku bukan seorang pemuji ulung, tetapi saya menyampaikan apa yg telah kunikmati.

Lisa, begitu dia biasa kupanggil, menyambutku dan mengajak duduk tepat di bawah salah sesuatu daun jendela Kafe Rumah Pohon yg terbuka lebar. Tak pakai basa-basi, mungkin dia tahu saya telah lapar, dia memberikan menu buat kupilih.

Tapi karena niat awal ingin merasakan empuknya sate rusa, maka itulah yg kupesan. Minumnya Kalamaci yg enaknya segera diminum, seger….

“Ini jeruk kasturi, ini lebih ke women drink. Rasanya nano-nano lah, ada asamnya, ada gurih-gurihnya. Kebetulan memang segmen market kami 85 persen perempuan. Pastinya minumannya minuman perempuan, jadi cenderung general drink,” kata Lisa membuka percakapan.

Untuk itu, kopi juga wajib mengikuti arus feminin. Maka jelly coffee, es cappucino, latte art dan avocado coffee menduduki rating atas permintaan. Padahal kopi-kopi yg tersedia cukup banyak jenis dengan teknik dan proses pengolahan.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Suasana di dalam Kafe Rumah Pohon di Medan, Sumatera Utara. Ada pohon rambutan berusia 25 tahun.

“Yang tiba ke sini belum penikmat kopi, masih belajar. Kalau ada yg tahu kopi, biasanya pelanggan Anonimo di Amir Hamzah yg hanya pengen ganti suasana,” kata seorang Barista.

Berhubung pesanan belum datang, Lisa mengajakku ke dapur bagi melihat segera proses penyajian sate rusa.

“Dari segi rasa, dagingnya lebih lembut dari sapi. Tapi ini kan hewan liar, jadi tergantung umur berapa yg didapat, itu berpengaruh juga. Waktu dibeli, kalian tak melihat lagi ukuran dan macam rusanya. Makanya, buat sate ini, saya bekerja sama dengan Kambing Guling Rama yg telah ada di Medan sejak 40 tahun lalu,” tutur Lisa.

Dia bilang, di kafe ini, tak seluruh bidang dirinya yg menangani, ada divisi-divisinya. Seperti divisi nasi dan mi goreng, divisi minuman dan kopi, sementara Lisa fokus di dapur yg memproduksi makanan-makanan ala kampung. Sifatnya partner dan sharing profit.

Untuk menu sate rusa, cuma ada tiap Jumat sampai Minggu. Hari biasa diisi sate ayam. Alasannya keterbatasan bahan baku daging rusa yg harus dikirim dari Aceh dan mahalnya ongkos produksi.

“Seporsi sate daging rusa kalian jual Rp 50.000. Responnya bagus, padahal saya telah sempat khawatir karena harganya tinggi. Laki-laki yg banyak menyukai makanan ini,” ucapnya.

Dua tusuk daging rusa bakar dihidangkan bersama lontong atau nasi, saus kacang dan kecap. Daging dibakar ala kebab, ada selipan bawang, tomat dan paprika.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Paket andalan, daun ubi tumbuk dan sambal gembung rebus bawang Batak di Kafe Rumah Pohon, Medan, Sumatera Utara.

Lisa mengaku tak ada mitos soal khasiat daging hewan berkaki empat yg lincah ini, cuma saja pastinya lebih sehat dan rendah lemah. Tak lama, beberapa tusuk daging bakar dengan kawan-kawannya muncul di depan hidung, yah, pesanan telah tiba.

Waktunya mencicipi. Karena masih panas, saya makan sepotong jagung yg menjadi pelengkap. Setelah itu, mengambil sesuatu tusuk, dahulu hap. Potongan pertama masuk ke mulut, menyentuh lidah dan berguling di gigitan, enak! Dagingnya lembut nian, bumbunya pas.

Aku suka menikmatinya dengan kecap saja. Hitungan menit, tidak ada lagi yg tersisa. Sepertinya, kalau buat ukuran perutku, harus pesan tiga porsi ini.

Menyusul pesanan Rara, es krim vanila goreng yg memakai mix selai nenas khas buatan Lisa. Manis, segar dan kriuk-kriuk dibayar dengan harga Rp 20.000 se porsinya. Rara yg dimintai komentar bilang enak. Dia heran, es krimnya tak mencair padahal balutan rotinya digoreng.

Selain ek krim goreng, Lisa bilang juga ada avocado mousse, apple pie dan brownies pakai es krim. “Kalau hari biasa, akan sore, di sini banyak anak muda. Sama mereka, makanan kampung kurang jalan, sukanya makanan yg nanggung-nanggung, makanan yg gak ngenyangin kali. Atau larinya paling ke nasi goreng sama mi goreng,” ujar Lisa.

Makanan kampung yg masuk makanan berat, peminatnya para emak-emak dan ayah-ayah. Tersedia akan pukul 11.00 sampai tutup setiap harinya. Sebelum jam 11.00, kalian mampu menikmati lontong Medan, misop kampung dan pulut (ketan) pisang goreng.

“Setelah jam 11, daun ubi tumbuk dan arsik ayam masak. Ini menu wajib dan andalan, yg masak segera dari Sidimpuan orangnya. Kalau kita rahasianya pakai udang dop-dop atau udang kecepe. Tidak pakai bawang dan cabe,” katanya membagi bocoran resep.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Sate rusa yg lembut dan gurih di Kafe Rumah pohon, Medan, Sumaera Utara.

Daun ubi tumbuk buatannya terdiri dari santan encer, rimbang, kecombrang dan udang. Santan yg tak begitu kental membuat tak enek, berpadu dengan warna hijau daun ubi yg tumbuk masih memakai lesung.

Soal arsik yg identik dengan ikan mas tetapi oleh Lisa diganti ayam, alasannya sederhana, tamunya yg tiba kebanyakan kaum ibu yg tak telaten makan ikan mas yg banyak durinya.

“Idealnya arsik ayam kampung, tetapi faktor harga jual dipilih lah ayam potong biasa. Kita ada paket murah meriah, sesuatu paket Rp 35.000 telah dengan minum. Setiap hari habis, jadi setiap hari baru dan segar,” ujarnya.

Ada paket yg terdiri dari nasi, daun ubi tumbuk, arsik ayam, sambal andaliman, sambal terung telunjuk teri kasar pakai kincung, minumnya juice timun atau es buah. Paket yang lain dengan komposisi sama, cuma arsik ayam diganti rendang sapi pakai kentang kecil, atau yg lauknya sambal gembung rebus bawang batak.

Kalau tidak suka ketiganya, ada paket tanpa daun ubi tumbuk merupakan ayam goreng kalasan, sambal belacan, sambal terung dan lalapan. Semuanya dijamin enak dan wajib nambah, tetapi dari ketiga pilihan itu, saya suka paket dengan daun ubi tumbuk dan sambal gembung rebus. Pasti nagih lah!

Tiba-tiba, hujan deras mengguyur bumi. Dingin menyergap, aroma-aroma yg beterbangan menggugah selera, tetapi saya telah cukup kenyang. Lisa tiba dengan nampan kaleng yg di atasnya ada beberapa cangkir dan ceret kecil. “Cake of the day at Kafe Rumah Pohon,” ucapnya sumringah.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Arsik ayam kreasi Lisa di Kafe Rumah Pohon, Medan, Sumatera Utara.

Hari ini teman minum teh bunga melati adalah bolu marmer. Tapi saya baru saja memesan kopi. Mungkin layak dicoba minum teh dahulu sebelum ngopi. “Timpan, wajik dan ombus-ombus itu jodohnya ngopi. Coba tanya anak-anak ini, mana tahu dia ini makanan apa dan dari mana. Tahunya pizza dan ayam goreng cepat saji. Eh, kenapa kami gak buat, bantu lah saya bagaimana caranya supaya anak-anak ini kenal masakan tradisional. Biar pengetahuan mereka bertambah,” ucap Lisa dengan mimik cemas.

Dia rela kafenya dijadikan tempat bagi berdiskusi, bertemu dengan ahli bagi membahas masakan, makanan dan minuman kedaerahan yg nyaris punah. Idenya setiap bulan bertemu dengan sesi-sesi yg berbeda, misalnya bulan ini membahas kuliner khas Batak, kemudian Melayu, Mandailing, dan lainnya.

“Kayak Andaliman itu, tanya anak-anak itu kalau tahu dia apa itu andaliman. Kita bagi lah, yok… Supaya tahu mereka. Apa yg mampu kalian buat? Aku milik misi edukasi dan sosial, kami milik PR, nanti kalau kami gak ada, mereka tahu apa lagi? Ini juga bagian buat melestarikan budaya kita,” ujarnya.

Menurut Lisa, langkah awal telah dilakukannya. Mimpi kehadiran Kafe Rumah Pohon adalah menjadi tempat tersedianya makanan-makanan kampung tetapi tak kampungan. Makanan kampung tidak jarang dinilai enak tetapi kurang menjaga kebersihan, Lisa tidak mau berlaku sama. Dia utamakan kenyamanan dan kebersihan dan selalu melakukan pengembangan variasi menu di sana-sini.

Saat ini Lisa fokus dengan masakan Tapanuli, ke depannya dia ingin coba menyediakan masakan Aceh dan Melayu. “Pokoknya, sebanyak-banyaknya makanan kampung yg orang telah banyak gak tahu. Itu yg pelan-pelan saya kerjakan,” katanya tersenyum.

Ditanya apakah dia menghafal seluruh resep, dia bocorin lagi rahasia dapurnya. “Kalau boleh jujur, saya belajarnya di pasar, dari pedagang. Kutanya-tanya, kalau mau untuk ini bumbunya apa, mereka kasih tahu, terakhir ya google lah. Kalau Arsik, saya belajar dari mertua, rendang dari mama, daun ubi tumbuk dari orang kampung yg tinggal di tempat kita,” katanya sambil tertawa.

Satu menu yg ingin dia sediakan dalam waktu dekat ini adalah sambal Tuk-tuk, tetapi bahannya susah karena memakai ikan Aso-aso. Sekarang, ikan ini digantikan ikan teri kasar.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Es krim goreng vanila di Kafe Rumah Pohon, Medan, Sumatera Utara.

Ikan Aso-aso adalah ikan gebung yg dikeringkan. Setelah dibakar, ikan ini dikerik, kemudian digiling sama bawan dan cabe. Pas mau dimakan, baru diberi perasan jeruk nipis. Makannya pakai daun rebus saja telah cukup.

“Berair mulut awak membayangkannya, itulah sambal Tuk-tuk asli. Terus sambal limbat atau bayi lele yg dibakar atau sale. Cuma kadang, mau dijual berapa ini? Ikan sale sekarang harganya Rp 180.000 sekilo. Tapi itulah, tetap misi sosial dan edukasi yg paling atas, biar tahu sejarah masakan-masakan itu,” katanya mengulangi.

Bagi Lisa  tempat telah tersedia, tinggal menjalin kerja sama ke sekolah-sekolah atau pihak-pihak yg terpanggil dan milik pemikiran sama melestarikan kuliner Indonesia. Mau membagi-bagikan pengetahuan dan ilmunya kepada generasi muda Medan. Kemudian didemonstrasikan, dicicipi bersama dan diingat bersama. Semua orang harus bertanggung jawab menjaga warisan ini sebelum tergerus oleh budaya baru dan asing.

Dulunya Tempat Bermain Cucu

Kafe Rumah Pohon konsepnya adalah kafe keluarga. Awalnya tempat ini adalah halaman luas rumah Lisa yg ditumbuhi banyak pohon aneka jenis. Saat lahir cucu pertama, ayah Lisa milik ide bagi membuat rumah pohon sebagai tempat bermain cucunya.

Dipilih lah pohon rambutan yg ketika ini usianya telah 25 tahun. Kalau rumah pohon baru berumur tujuh tahunan, besarnya sepertiga yg sekarang, masih pakai tangga dan tanpa atap.

“Jadi kalau cucu-cucu camping di rumah pohon, bagi api unggun, sambil tiduran memandang langit lihat bintang, berdongeng dan bercerita. Seiring bertambahnya umur, tempat ini lapuk dimakan hujan, akan tidak lakulah rumah pohon si opung ini,” kata Lisa mengenang.

Sebagai seorang pebisnis, Lisa sempat menganggap rumah pohon tidak berguna, makan tempat dan bagi sempit saja. Namun orang tuanya tak menginginkan bangunan ini dienyahkan, hingga ada dua waktu menjadi terlantar. Sampai muncul ide buat membuatnya menjadi kafe di 2016.

Mulailah dikerjakan renovasi dan penambahan yg tak banyak mengubah bentuk aslinya. Lalu menentukan namanya yg dikenal ketika ini.

KOMPAS.COM/MEI LEANDHA Jelly coffee ala Kafe Rumah Pohon di Medan, Sumatera Utara.

“Awal mau bagi kafe, seluruh orang menjatuhkan semangatku. Susah, jalan sesuatu arah, siapa yg mau nengok, ciut hati awak. Ternyata modal usaha itu tak cuma makanan enak saja, tempatnya harus lain, orang sekarang gila narsis. Dari awal tak ada tamu yg pulang tanpa berfoto, ini iklan gratis, kecuali kalian telah terkenal,” paparnya.

Kapasitas kafe buat lantai dasar merupakan teras mampu menampung 80-an pengunjung ketika cuaca baik. Kalau cuaca buruk, ini lah yg sedang dipikirkan Lisa. Karena dia tak ingin melakukan penambahan yg merusak estetika taman. Kalau di ruang AC muat 35-an orang dan di lantai beberapa rumah pohon juga 30-an orang.

Buka akan pukul 10.00 WIB, kalau akhir minggu dapat tutup sampai tengah malam, sepanjang makanan yg dijual masih ada.

“Mungkin mulai ada penambahan di sebelah sana. Kalau ada acara-acara besar seperti reuni atau arisan, rekomendasinya ya di sini, teras. Lebih lapang dan luas. Buat yg ingin memulai usaha seperti aku, tipsnya hanya jaga mutu dan SDM,” kata perempuan cantik dan ramah itu.

Sumber: http://travel.kompas.com