Riam Berasap, Potensi Wisata Alam Perbatasan Di Kabupaten Sambas

By | October 12, 2016

SAJINGAN, KOMPAS.com – Gemericik air yg mengalir dari ketinggian di antara bebatuan granit raksasa siang itu terdengar dari kejauhan. Langkah kaki pun dipercepat memadu waktu diantara sinar matahari yg menerobos masuk dari celah dedaunan.

Rasa penasaran setelah menempuh 30 menit perjalanan trekking dari parkiran kendaraan terbayar saat bulir air seperti asap terbawa angin menyapa kulit.

Air Terjun Riam Berasap yg terletak di Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat memiliki potensi dan peluang yg besar dalam menarik minat kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara khususnya dari negara Sarawak, Malaysia.

“Riam” dalam bahasa setempat artinya “air terjun”, sedangkan “berasap” berasal dari kata “asap” buat menggambarkan percikan bulir air terjun yg terbang terbawa angin yg kelihatan seperti asap dari kejauhan.

Jelang siang di hari Minggu pertengahan September 2016 lalu, ratusan warga silih berganti memadati kawasan air terjun itu. Mereka kelihatan gembira dan melepas penat dengan mandi di bawah air terjun. Sebagian dari mereka kelihatan bersama keluarga.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWAN Pengunjung ketika menikmati suasana Air Terjun Riam Berasap yg terletak di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Masing-masing mencari tempat terbaik buat tempat berkumpul dan beristirahat, sembari menikmati bekal makanan yg dibawa.

Riam ini berada di antara perbukitan yg masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Gunung Puai. Gugusan perbukitan yg memanjang dan bersambung hingga ke perbatasan.

Untuk menuju air terjun ini dapat dibilang membutuhkan waktu tempuh perjalanan yg cukup panjang dari kota Pontianak. Dengan jarak tempuh sekitar lebih dari 350 kilometer dari kota Khatulistiwa, dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Sedangkan dari kota Kuching, Sarawak, cuma membutuhkan waktu kurang dari beberapa jam perjalanan darat.

Kondisi hutan yg masih bagus, ditambah gemericik air terjun yg berbaur dengan kicau burung, membuat suasana betah buat berlama-lama di sana. Kawasan ini dikelola oleh sekelompok pemuda kampung setempat yg menerapkan retribusi sebesar Rp 5.000 buat setiap pengunjung.

Mereka juga mengelola lahan parkir, sehingga pengunjung tidak perlu khawatir meninggalkan kendaraan mereka di bawah. Kelompok yg didominasi anak muda ini, selain menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung, mereka juga membersihkan sampah yg ditinggal pengunjung.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWAN Pengunjung ketika menikmati suasana Air Terjun Riam Berasap yg terletak di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Sim Chin Kiong, salah sesuatu wisatawan dari Kuching, Sarawak ketika bertemu di kaki bukit merasa terkesan dengan panorama Air Terjun Riam Berasap yg indah dan menawan.

Pemilik travel agent Bombastic Borneo ini kerap membawa tamu dari negaranya maupun wisman menjelajahi berbagai potensi alam dan budaya yg ada di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

“Potensi ini mestinya dikelola dengan serius oleh pemerintah Indonesia. Saya dan istri yg suka travel ini tidak jarang mengunjungi Kalimantan Barat. Indonesia kaya mulai wisata dan budaya,” kata Sim yg ketika itu tiba ditemani istrinya.

Meski diakuinya wilayah perbatasan yg berada di Indonesia memiliki potensi wisata, ia juga mengeluhkan infrastruktur jalan terutama akses masuk ke Indonesia yg ketika ini cuma mampu melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong di Kabupaten Sanggau buat dapat membawa kendaraan pribadi.

Padahal, lanjut Sim, di Aruk yg berbatasan dengan kampong Biawak-Lundu juga memiliki PLBN, namun kendaraan belum mampu melintas lewat border tersebut. “Ini terlalu membuang waktu perjalanan seandainya harus lewat Entikong, karena rute yg dilalui harus memutar dan itu cukup jauh,” ujarnya.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWAN Pengunjung ketika menikmati suasana Air Terjun Riam Berasap yg terletak di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Melirik potensi besar industri wisata di perbatasan yg dimiliki Indonesia, tentu ini sebuah peluang buat mendatangkan wisatawan yang berasal Malaysia melalui konsep ekowisata dan cross-border tourism.

Apalagi, dengan semakin terbukanya akses dan jalur darat, berpotensi menghidupkan perekonomian masyarakat, salah satunya dari sektor pariwisata.

Saat ini tergantung bagaimana dengan komitmen pemerintah daerah dalam memanfaatkan peluang yg besar tersebut, yg jelas secara tak segera mulai berdampak pada pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata dan sektor turunan lainnya.

Sumber: http://travel.kompas.com