Mengintip Potongan Rambut Buddha Di Botataung Pagoda, Yangon

By | October 12, 2016

YANGON, KOMPAS.com – Saya kaget saat seorang wanita petugas Botataung Pagoda dengan galak meminta aku berbaris. Di ujung ruangan, terdapat beberapa petugas yg berkutat di depan monitor dan kamera mungil yg bertengger di sampingnya.

Photo! Photo!,” tutur wanita itu kepada KompasTravel

Sepanjang kunjungan ke Yangon, Myanmar, bersama Tourism Authority of Thailand (TAT) dua waktu lalu, baru pertama kali aku diminta foto layaknya di konter imigrasi bandara. Semua turis yg masuk ke Botataung Pagoda yg terletak di pusat kota memang harus melewati prosedur tersebut.

Saya bertanya kepada Nang Hla May, pemandu yg waktu itu mengantar kalian mengelilingi kota besar di Myanmar itu. Dengan pasti dia menjawab, “Pagoda ini menyimpan potongan rambut Buddha.”

Banyak pagoda dan kuil yg konon menyimpan peninggalan Buddha, namun mayoritas adalah replika. Saya buru-buru melepas sepatu dan memasuki pagoda, ingin membuktikan bahwa relik (sisa jasmani) Buddha yg asli benar-benar disimpan di sana.

Dari gerbang masuk, aku segera dihadapkan dengan beberapa daun pintu yg terbuka lebar. Jalur masuk terletak di sebelah kiri, dan jalur keluar di sebelah kanan. Pintu, ornamen, dan dinding bangunan tersebut berlapis emas.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Botataung Pagoda adalah salah sesuatu kuil tertua di Myanmar. Disinyalir, kuil ini dibangun bersamaan dengan Shwedagon Pagoda 2.500 tahun lalu.

Botataung Pagoda adalah salah sesuatu kuil tertua di Myanmar. Disinyalir, kuil ini dibangun bersamaan dengan Shwedagon Pagoda 2.500 tahun lalu. Bangunan kuil ini hancur total pada masa Perang Dunia II, namun warga lokal bergotong-royong merenovasinya kembali.

Begitu memasuki pagoda, aku kaget bagi kedua kalinya. Bagian dalam kuil ini ternyata berupa labirin yg semua permukaannya berlapis emas. May, panggilan pemandu kalian menyampaikan bahwa emas adalah barang paling mulia yg dimiliki warga Myanmar. Istilahnya, demi Buddha, mereka mulai memberikan seluruh yg mereka punya.

Tiga kali berbelok di labirin, ada dua warga dan turis asing yg mengantre di depan saya. Di ujung ruang labirin kali ini terdapat pintu, yg juga berlapis emas, dengan sesuatu lubang kaca berbentuk persegi berukuran kecil. Lubang kaca tersebut adalah tempat melihat relik Buddha berupa potongan sesuatu helai rambut.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Di ujung ruang labirin kali ini terdapat pintu, yg juga berlapis emas, dengan sesuatu lubang kaca berbentuk persegi berukuran kecil. Lubang kaca tersebut adalah tempat melihat relik Buddha berupa potongan sesuatu helai rambut.

“Buddha’s Sacred Hair Relic” begitu tulisan yg tertera di bagian dalam ruangan tersebut. Disinari kilauan emas dari berbagai sudut, telah tentu potongan sehelai rambut punya Buddha tak terlihat. Namun potongan tersebut disimpan di dalam etalase kaca, dengan berbagai ornamen dan pajangan di sampingnya.

Tak boleh berlama-lama memerhatikan relik Buddha tersebut, karena banyak warga Myanmar yg juga mengantre bagi berdoa. Relik Buddha memang sangat disakralkan oleh umatnya.

Rupanya labirin lebih panjang ketika menuju jalan keluar. Di tengah perjalanan keluar labirin, aku melihat dua warga lokal duduk bersimpuh buat berdoa.

Sumber: http://travel.kompas.com