Pengembangan 10 Destinasi Butuh Rp 260 Triliun

By | October 15, 2016

JAKARTA, KOMPAS – Pengembangan 10 destinasi wisata prioritas pemerintah diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp 260 triliun.

Kementerian Pariwisata selalu melakukan promosi wisata dan promosi investasi buat menggenjot target wisatawan sebanyak 20 juta orang pada 2019.

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata Dadang Rizki Ratman seusai seminar dalam acara Trade Expo Indonesia di Jakarta, Kamis (13/10/2016).

Ke-10 destinasi wisata itu adalah Mandalika, Nusa Tenggara Barat; Pulau Morotai, Maluku Utara; Tanjung Kelayang, Kepulauan Bangka Belitung; Danau Toba, Sumatera Utara; Wakatobi, Sulawesi Tenggara; Borobudur, Jawa Tengah; Kepulauan Seribu, DKI Jakarta; Tanjung Lesung, Banten; Bromo, Jawa Timur; dan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Penyelam menikmati keindahan bawah laut di Pantai Waha, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Jumat (24/6/2016).

Dadang menuturkan, sektor pariwisata berada di urutan keempat dalam perolehan devisa. Data 2014 menunjukkan, minyak dan gas bumi menempati urutan pertama dengan nilai 30,31 miliar dollar AS, disusul batubara (20,81 miliar dollar AS), minyak kelapa sawit (17,46 miliar dollar AS), dan pariwisata (11,16 miliar dollar AS).

”Pada tahun 2019, sektor pariwisata ditargetkan bisa memberi kontribusi terbesar dalam perolehan devisa,” ujar Dadang.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong mengakui, investasi di sektor pariwisata masih terpusat di Bali dan DKI Jakarta. Untuk itu, promosi investasi di sektor pariwisata perlu diarahkan ke daerah-daerah luar Bali, terutama 10 daerah destinasi wisata.

”Dalam menarik investasi, perlu dilihat tingkat penyerapan tenaga kerja. Investasi di padat modal dengan nilai investasi yg tinggi memang belum tentu menyerap banyak tenaga kerja,” kata Lembong.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Warga luar Suku Tengger menangkap dengan jaring sesaji yg dilemparkan warga Tengger ke dalam kawah Gunung Bromo dalam puncak perayaan Yadnya Kasada di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (21/7/2016). Perayaan Yadnya Kasada sebagai ritual penghormatan leluhur dan wujud terima kasih warga Tengger atas hasil bumi tetap dikerjakan walaupun Gunung Bromo berstatus Waspada.

Sebaliknya, investasi di sektor pariwisata dengan nilai yg tak terlalu tinggi dapat saja bisa menyerap banyak tenaga kerja, antara yang lain pelayan di restoran, pelayan hotel, jasa binatu, atau pemandu wisata. Demikian juga pelaku usaha kecil dan menengah yg memproduksi produk-produk kerajinan tangan. (FER)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Oktober 2016, di halaman 19 dengan judul “Pengembangan 10 Destinasi Butuh Rp 260 Triliun”.

Sumber: http://travel.kompas.com