Kebab Di Tepi Bosphorus

By | October 15, 2016

DALAM dekapan senja nan romantis, kita menikmati gurihnya kebab turki. Ini pengalaman makan menyenangkan di tepian Selat Bosphorus yg memisahkan daratan Eropa dan Asia. Warna langit pada sisa hari Jumat (9/9/2016) tampak biru cerah, membentang di atas Bebek, kawasan elite di tepi Selat Bosphorus, Istanbul, Turki.

Para pengelola kapal yg biasa membawa turis menyusuri Bosphorus sibuk menyiapkan jamuan makan dan minum. Musik sudah terdengar dari kapal-kapal mewah yg masih bersandar di dermaga itu, seperti menjanjikan asyiknya pesta nanti malam.

Kami, rombongan wartawan yang berasal Indonesia yg berkunjung ke Istanbul atas undangan Turkish Airlines, diajak mencicipi suasana pada pengujung hari di Restoran Reina.

Pemandu wisata mengatakan, Reina adalah salah sesuatu restoran mewah di kawasan Bebek yg menjadi tempat nongkrong para selebritas Turki. Itu sebabnya, penggunaan kamera sangat dibatasi demi kenyamanan para pesohor tersebut.

Restoran Reina tepat berada di sisi Selat Bosphorus yg masuk daratan Eropa. Dari sini, kami mampu memandang daratan Asia dalam jarak kurang dari 2 kilometer.

Sebagian kota Istanbul memang masuk daratan Eropa, sebagian lagi Asia. Keduanya cuma dipisahkan oleh selat sempit selebar kurang dari 2 kilometer bernama Bosphorus.

KOMPAS/BUDI SUWARNA Sebuah kapal wisata melintas di Selat Bosphorus dengan latar belakang bangunanbangunan yg tumbuh di bukit, Jumat (9/9/2016) sore. Pemandangan cantik seperti itu dengan leluasa mampu dinikmati turis di kawasan Bebek, Istanbul, Turki.

Ketika senja selalu menua, gedung-gedung, rumah, kubah masjid, dan menara telekomunikasi yg tumbuh di bukit-bukit di daratan Asia semakin kelihatan kuning keemasan.

Berangsur kemudian bangunan-bangunan kian samar, lantas berubah menjadi titik-titik terang di hari yg gelap. Itu adalah ribuan lampu yg tampak seperti sekawanan bintang turun perlahan ke bumi buat menginap semalam.

Pemandangan indah itu sering diselip oleh kapal-kapal mewah pengangkut turis yg hilir-mudik di depan mata. Sebagian penumpangnya yg berbaju formal, seperti gaun dan jas, kelihatan mengangkat gelas bagi bersulang. Pesta rupanya baru saja dimulai.

Kami pun memulai pesta dengan mengudap sepiring saksuka yg rupanya mirip balado terung. Untuk ukuran lidah Indonesia, rasa saksuka terasa hambar. Jejak gurih, manis, dan pedas terasa samar. Hanya jejak asam yg terasa lebih jelas.

Dalam dua menit, di meja kita sudah terhidang makanan utama, yakni kebab daging ayam yg kelihatan lembab dan mengundang selera.

Seperti saksuka, rasa kebab itu juga ringan dengan jejak gurih dan aroma asap daging panggang seperlunya saja. Setelah ditambah irisan cabai hijau dan tomat yg dibakar hingga kulitnya sedikit menghitam, rasa kebab itu menjadi lebih dalam.

KOMPAS/BUDI SUWARNA Sebuah kapal wisata melintas di Selat Bosphorus dengan latar belakang bangunanbangunan yg tumbuh di bukit, Jumat (9/9/2016) sore. Pemandangan cantik seperti itu dengan leluasa mampu dinikmati turis di kawasan Bebek, Istanbul, Turki.

Kami menutup pesta makan malam itu dengan minuman bersoda. Sebagian mencicipi raki, minuman tradisional khas Turki atau kopi turki yg kental. Dan, tidak terasa senja berlalu begitu saja.

Siang yg indah

Suasana siang di tepi Selat Bosphorus tidak kalah indahnya. Kami menikmatinya di Restoran Ali Ocakbasi yg terletak antara Selat Bosphorus dan mulut Golden Horn, pelabuhan alam yg telah ada di Istanbul sejak beradab-abad lalu.

Dari teras restoran itu kalian dapat melihat kapal-kapal tanker dan kargo melintas di Selat Bosphorus dari Laut Marmara di selatan menuju Laut Hitam di sebelah utara atau sebaliknya. Ini adalah jalur dulu lintas barang yg amat utama dari Asia ke Eropa atau sebaliknya.

Siang itu, kita menikmati kebab adana yg berasal dari daerah Adana di Turki bagian selatan. Kebab ini berbeda dengan kebab daging ayam yg disajikan Reina.

Kebab Ali Ocakbasi berbahan daging sapi cincang bercampur lemak kambing. Kedua bahan itu digulung dan dipanggang di atas tungku kayu bakar.

KOMPAS/BUDI SUWARNA Saksuka yg disajikan di Restoran Reina di kawasan Bebek, Istanbul, Turki, Jumat (9/9/2016).

Aroma kebab adana yg harum sudah menggoda sejak masakan itu masih dipanggang dan mengepulkan asap putih. Dalam sekian menit, kebab itu sudah mampir di lidah kalian dan meninggalkan jejak gurih, asin, asam, pahit, dan bau asap yg tegas.

Kebab ini disantap dengan saksuka, lavas (sejenis roti tawar tipis), keju kambing beraroma tajam, dan bulgur yg dimasak dengan saus tomat serta bawang.

Lewat kebab, saksuka, bulgur, dan keju kambing yg menyengat, kalian berkenalan dengan masakan Turki. Seperti masakan Eropa umumnya, masakan Turki cenderung mempertahankan kesegaran rasa asli bahan pembuatnya.

Karena itu, tidak banyak bumbu atau rempah ditambahkan ke dalam masakan. Ikan bakar, misalnya, cuma dibumbui garam dan setelah matang dibubuhi sedikit jeruk lemon. Dengan begitu, jejak rasa setiap masakan lebih selalu terang dan telanjang.

Bagaimanapun, menyantap masakan Turki di tepian Selat Bosphorus yaitu pengalaman yg menyenangkan. Apalagi, sebagian besar restoran yg tumbuh di Istanbul, baik sisi Asia maupun Eropa, tak cuma menawarkan makanan, tapi juga memanjakan mata dengan pemandangan indah.

KOMPAS/BUDI SUWARNA Roti Tawar yg disajikan di Restoran Reina di kawasan Bebek, Istanbul, Turki, Jumat (9/9/2016).

Restoran-restoran yg sebagian masuk kategori mewah itu bermunculan bak cendawan di musim hujan seiring ledakan industri pariwisata di Istanbul sejak dua tahun terakhir. Restoran-restoran itu menawarkan pengalaman makan dengan tarif 50-150 lira Turki atau Rp 300.000-Rp 700.000.

Meski jumlah turis setahun terakhir turun seturut rentetan konflik dan peristiwa politik, restoran-restoran di tepi Selat Bosphorus tetap diminati pengunjung. Pesta-pesta selalu berlangsung di restoran atau kapal-kapal mewah.

Pesta-pesta itu tetap menarik para turis asing yg ingin menikmati hidup atau turis lokal yg ingin keluar sejenak dari hiruk-pikuk politik negeri itu. (BUDI SUWARNA)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Oktober 2016, di halaman 30 dengan judul “Kebab di Tepi Bosphorus”.

Sumber: http://travel.kompas.com