Nyepi Jadi “Trending Topic” Di World Culture Forum 2016

By | October 15, 2016

NUSA DUA, KOMPAS.com – Hari raya Nyepi menjadi trending topic di ajang World Culture Forum (WCF) 2016 yg di buka oleh mantan presiden Megawati Soekarnoputri di Nusa Dua, Badung, Bali, Kamis (13/10/2016).

Nyepi buat umat Hindu dimaknai sebagai perayaan Tahun Baru Saka yg dilaksanakan dengan Catur Brata Penyepian merupakan “amati geni” (tidak menyalakan api), “amati lelanguan” (tidak berkegiatan), “amati karya” (tidak bekerja) dan “amati lelungan” (tidak bepergian).

Nyepi membuat Bali menjadi satu-satunya pulau di dunia yg dapat mengistirahatkan bumi sehari penuh secara total.

“Nyepi tak dirayakan dengan pesta pora tetapi dengan keheningan. Bali adalah satu-satunya pulau di dunia yg bisa mengistirahatkan bumi sehari penuh secara total setiap perayaan Nyepi,” kata Megawati dalam sambutannya.

“Hening, senyap dan suci. Menurut saya, andai saja kami bisa merekomendasikan dalam forum ini, suatu kesepakatan kebudayaan, mendukung gerakan sesuatu menit saja hening dalam hati bumi. Makna hari bumi mampu diperluas sebagaimana Hari Raya Nyepi, dengan demikian jeda individu menjadi jeda kolektif dan selanjutnya menjadi jeda dunia,” kata Megawati.

Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan dalam sambutannya bahwa Nyepi memberikan jeda pada hiruk-pikuk kehidupan material. Dengan dihentikannya seluruh aktivitas duniawi, Nyepi memberikan ruang buat Bali buat slowing down.

ARSIP KOMPAS TV Ogoh-ogoh ukuran besar berbentuk Buta Kala digotong oleh sejumlah pemuda ketika parade Ogoh-ogoh berlangsung di Sanur, Bali, Selasa (8/3/2016).

Selain dari penghormatan terhadap ritual agama dan budaya, Menteri Muhadjir menjelaskan bahwa Nyepi pun memberikan efek terhadap penghematan sumber daya.

Dengan multiplier effect yg ditimbulkan oleh Nyepi, maka diharapkan bisa menjadi inspirasi negara-negara di dunia buat melakukan hal yg sama.

Pelaksanaan World Culture Forum 2016 yg berlangsung 10-14 Oktober 2016 dihadiri sekitar 1.300 peserta dari 63 negara dan diharapkan menghasilkan komitmen yg lebih mendalam, buat lebih sungguh-sungguh memperhatikan keanekaragaman budaya, agar pusat-pusat pembangunan menjadi lebih inklusif.

Sumber: http://travel.kompas.com