Aksa 7, Film Pendakian 7 Gunung Tertinggi Di Indonesia…

By | October 19, 2016

LIMA PULUH KOTA, KOMPAS.com – Gunung demi gunung tertinggi di Indonesia sudah didaki oleh ekspeditor Aksa 7. Dari ujung barat hingga timur Indonesia sudah dilampaui demi sebuah karya merupakan film dokumenter.

Lima laki-laki dan sesuatu perempuan berjalan bersama buat menyelesaikan film dokumenter lewat Ekspedisi Aksa 7 sejak November tahun 2014. Demi mimpi-mimpi bagi memotret Indonesia dari dekat.

“Aksa 7 ini awalnya dari keinginan kami membuat film perjalanan pendakian. Kita memulai perjalanan ini dari barat ke timur Indonesia lewat mendaki gunung. Yang kami daki 7 tujuh gunung di Indonesia. Ya sebenarnya ingin mengenal Indonesia lebih dekat lewat film. Ada kehidupan masyarakat yg yang lain kami tak kenal,” kata penggagas Ekspedisi Aksa 7, Anggi Frisca atau kerap disapa Cumit ini kepada KompasTravel di Lembah Harau dua waktu lalu.

Perspektif tentang Indonesia dicoba buat dihadirkan lewat sebuah film. Lewat enam pasang mata ekspeditor dan sesuatu ekspeditor tamu di masing-masing gunung, realita-realita Indonesia mencoba direkam.

Enam ekspeditor Aksa 7 adalah Anggi Frisca, Jogie Khrisna Muda Nadeak, Yohanes Christian Pattiasina, Rivan Hanggarai, Wihana Erlangga, dan Teguh Rahmadi. Semua memiliki latar belakang yg sama yakni sinematografer yang berasal Institut Kesenian Jakarta.

Dok. Aksa 7 Tim Aksa 7 berada di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru, Jawa Timur.

“Karena tiap masing-masing orang milik perspektif berbeda walaupun di tempat yg sama. Ketika mendaki ke Gunung Kerinci, aku melihat Kerinci jadi satu yg bernilai ekonomi sekali. Namun, Teguh melihat sederhana saja. Ada sesuatu kehidupan di daerah yg rela membuka pintunya masing-masing buat tamu. Itu yg tidak ada di Jakarta. Ini jadi perjalanan orang Jakarta mengenal Indonesia lebih dekat merasakan ada sesuatu kehidupan yg yang lain di luar sana,” cerita Cumit.

Ia menyampaikan film dokumenter Aksa 7 sendiri bercerita tentang perjalanan ekspeditor memotret kondisi sosial budaya ekonomi di tujuh gunung Indonesia. Perempuan yg bertindak sebagai sutradara film Aksa 7 itu juga menyebutkan banyak hal-hal yg ditemui selama perjalanan pendakian tujuh gunung itu.

Dari akan kehidupan ekonomi masyarakat yg belum terdampak oleh pariwisata gunung, cerita tentang pelestarian alam, dan juga tentang keselamatan pendakian gunung. Lewat perjalanan Aksa 7, ia pun belajar dari perjalanan bersama rekan-rekannya.

“Karena setelah melihat tujuh gunung di Indonesia dan bersama dengan masyarakat, rasanya Aksa 7 ini menjadi salah sesuatu bentuk pengabdian buat mengatakan inilah Indonesia, inilah pariwisata Indonesia,” tambahnya.

Ia pun membandingkan dengan kondisi pariwisata di luar negeri. Potensi Indonesia begitu luar biasa buat pengembangan pariwisata.

Dok. Aksa 7 Tim Ekspeditor Aksa 7

“Kenapa Indonesia tidak bisa? Padahal alam Indonesia telah luar biasa keren. Kenapa kami lebih memilih menjual tambang, rela daripada kami mengolah destinasi wisata yg indah ini menjadi target pariwisata,” jelasnya.

Ia pun berharap lewat film perjalanan yg memiliki pendekatan kisah nyata ini mampu merangsang berbagai pihak seperti pemerintah, masyarakat, hingga penggiat alam dalam mempromosikan dan mengelola obyek wisata gunung di Indonesia dengan maksimal.

Masalah-masalah yg Cumit temui selama perjalanan seperti sampah, tidak terdampaknya masyarakat secara ekonumi, dan pengelolaan wisata gunung yg buruk mampu hadir segera di masyarakat.

“Konsepnya Aksa 7 ini kan melihat, merasakan, dan bergerak. Cerita personal journey atau kisah nyata dari pendakian. Di film perjalanan pendakian ini mulai ada gambaran masalahnya ada di pendakian, persoalan ego kita, persoalan kalian bersama tim, bersama masyarakat, bersama pemerintah. Itu seluruh ada dan kami ramu di sebuah film. Personal journey ini jadi perwakilan banyak orang,” papar Cumit.

Film perjalanan Aksa 7 sendiri berdurasi 90 menit. Rencananya film pendakian ini mulai tayang pada tahun 2017.

“Setelah film ini tayang mampu diterima di bioskop karena film dokumenter belum milik tempat. Penontonnya dapat melihat perjalanan kalian dan Indonesia, bahwa ini adalah sebuah proses. Masyarakat Indonesia mampu muncul rasa cinta dan bergerak dari keadaan Indonesia yg sekarang ini,” ungkapnya.

Sumber: http://travel.kompas.com