Keris Lombok, Pusaka Kerajaan Tanpa Empu

By | October 25, 2016

KERIS di Pulau Lombok dan Sumbawa jumlahnya banyak. Mau bentuk dan gaya apa saja dapat ditemukan di sini,” ujar Syafari Habibi, penasihat Selaparang-Mandalika Keris, komunitas pencinta keris di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Contohnya, anggota paguyuban yg berjumlah 50 orang rata-rata memiliki 50-100 keris, malah ada di antaranya yg memiliki 300 keris. “Jumlah itu baru sebagian dari total keris yg masih disimpan masyarakat. Belum terhitung keris yg berpindah tangan dari pemiliknya di Lombok ke kolektor dalam dan luar negeri,” ujar Habibi.

Namun, bagaimana sejarah dan asal-usul keris, apakah tiba dari daerah lain, adakah empu si pembuat keris di NTB, belum ada dokumentasi tertulis sebagai rujukan. Apakah keriskeris itu pusaka tanpa empu?

Dalam buku Bentuk dan Gaya Keris Nusa Tenggara Barat terbitan Museum Negeri NTB dikatakan, gaya keris Lombok mirip gaya keris Bali. Gaya keris Samawa (etnis Samawa di Kabupaten Sumbawa) dan etnis Mbojo (Dompu dan Bima) mirip gaya keris Bugis Makassar, Sulawesi Selatan.

Gaya keris yg berbeda itu dinilai sebagai beberapa lintasan yg dilalui budaya keris masuk ke NTB. Dari utara melalui Bugis Makassar ke Pulau Sumbawa, sementara dari barat masuk melalui Bali ke Lombok. Itu kemungkinan berlangsung setelah era keruntuhan Majapahit (abad XV) sehingga Lombok dan Sumbawa menjadi ajang perebutan kekuasaan kerajaan.

Banyaknya keris yg ditemukan di Lombok mungkin peninggalan prajurit zaman rebutan pengaruh kekuasaan dahulu disimpan dan dirawat pemiliknya.

Keris-keris yg semula menjadi alat peperangan itu berakulturasi dengan budaya lokal, seperti pelengkap busana adat perkawinan dan lainnya.

Istilah selep/nyelep dan sikep/nyikep (bahasa Sasak) atau menyelipkan keris pada pinggang adalah bukti bahwa keris tak asing buat segala lapisan masyarakat.

Satu petunjuk, keris yg ditemukan di Lombok panjangnya 58-71 sentimeter (cm), sementara keris yg ditemukan di Sumbawa panjangnya 34-51 cm.

Berbeda dengan keris Jawa yg panjangnya 49-51 cm. Istilah ganja, pesi, pejetan, pamor, dan dhapur pada keris Jawa sama dengan keris Lombok meskipun sebutannya memakai bahasa lokal, Sasak.

Pamor (motif pada bilah keris) beras tumpah (Sasak), misalnya, sinonim dari wos wutah (Jawa), pamor aik ngelek atau banyu mili.

Habibi mengatakan, tak ada empu keris di Lombok karena penguasa ketika itu mungkin mendatangkan empu dari luar Lombok. Ketika empu meninggal, belum sempat menurunkan ilmunya. ”Yang jelas keris di Lombok menunjuk pakem (bilah) Bali-Lombok atau Lombok-Bali,” katanya.

Sumber: http://travel.kompas.com