Arsitektur “Homestay”, Satu Lagi Modal Untuk 10 Destinasi Prioritas

By | October 29, 2016


KOMPAS.com
Homestay alias rumah wisata menjadi konsep terkini yg melekat pada pengembangan destinasi wisata Indonesia. Tak yang berasal ada, konsep ini pun mengedepankan estetika sekaligus kesesuaian dengan lokasi wisatanya, sampai digelar sayembara buat arsitekturnya.

“Saya ingin nanti karya-karya mereka (para pemenang sayembara) diabadikan dalam desain arsitektur nusantara di 10 top destinasi yg mulai dibangun homestay,” kata ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya, Selasa (25/10/2016), tentang hasil sayembara itu.

Kementerian Pariwisata bersama Badan Ekonomi Kreatif menggelar Sayembara Arsitektur Nusantara dengan total hadiah senilai Rp 1 miliar, yg hasilnya diumumkan pada Selasa malam itu.

“(Penggunaan hasil rancangan) ini mulai membuat mereka (para pemenang) semakin bangga dengan karyanya yg menjadi daya tarik atau atraksi wisata tersendiri,” lanjut Arief.

Sebelumnya, ketika peluncuran sayembara di Jakarta Convention Centre (JCC), Jumat (22/7/2016), Arief menyatakan, arsitektur nusantara dipilih sebagai tema sayembara ini karena seni dan budaya membangun rumah adat di Indonesia itu sangat beragam.

Ratusan jumlah suku memiliki ratusan model arsitektur pula. Namun, lanjut Arief, heritage design itu makin tergusur oleh model-model minimalis yg menyerbu di hampir segala kota di tanah air, termasuk daerah-daerah yg diproyeksikan menjadi kawasan pariwisata.

Arief mencontohkan atap rumah begonjong di Minang Kabau telah akan susah dicari, bahkan di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Begitu pula arsitektur di daerah lain, seperti Rumah Adat Bolon Toba, rumah Bolon Simalungun, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Mandailing, rumah Bolon Pakpak, dan rumah Bolon Angkola, yg bahkan namanya pun telah tidak banyak dikenali orang.

arsitekturnusantara.propanraya.com Sayembara Arsitektur Nusantara 2016

Langkah melestarikan dan mengembangkan desain arsitektur nusantara buat pariwisata prioritas, ungkap Arief, juga bertujuan melahirkan ikon-ikon desain bangunan dan infrastruktur lingkungan yg menjadi daya tarik buat para wisatawan bagi berkunjung ke Indonesia.

”Desain yg dapat mengikuti tuntutan modern, tapi tak meninggalkan keunikan dan kearifan lokal budaya setempat,” harap Arief.

Tidak kuno lagi

Ketua Dewan Juri Sayembara Desain Arsitektur Nusantara 2016 Yori Antar menyatakan, selama ini arsitektur nusantara dikesankan sebagai model bangunan kuno yg cuma layak masuk musem.

Namun, lanjut Yori, sayembara ini mendapati karya para peserta memamerkan arsitektur nusantara dapat pula tampil artistik dan tak terkesan tua. Selain Yori, juri sayembara adalah Bambang Eryudhawan, Dharmali Kusumadi, Eko Alvares, Endy Subijono, Hari Sungkari, dan Herry Purnomo.

“Dan (rancangan) itu seluruh nantinya tak dimiliki oleh investor real estate, tapi dipunyai oleh masyarakat sebagai homestay,” kata Yori, seperti dikutip dari situs web Kementerian Pariwisata.

Yori pun dulu bertutur soal resor Nihi Watu di Sumba yg dinobatkan sebagai resor terbaik di dunia. Terkenal di dunia, desain resor ini justru sangat lokal, memakai arsitektur nusantara.

“Sama juga dengan Wae Rebo di atas perbukitan di Flores, yg bagi menggapainya harus berjalan kaki. Dulu setahun cuma dikunjungi 50 wisatawan, sekarang 30.000 orang. Konsepnya adalah rumah adat asli arsitektur nusantara,” tutur Yori.

Dok Kementerian Pariwisata Sayembara Arsitektur Nusantara 2016 dinyatakan masuk catat rekor dari Museum Rekor Indonesia, Selasa (25/10/2016). Hasil rancangan pemenang sayembara ini mulai dipakai dalam pengembangan homestay di destinasi-destinasi penting Indonesia, termasuk 10 Destinasi Prioritas “Bali Baru”, yg mulai akan digeber pada 2017.

Sayembara ini pun tidak luput dari perhatian Jaya Suprana, pelopor Museum Rekor Indonesia (Muri). Pada malam pengumuman pemenang sayembara tu, Muri pun mencatat sayembara ini ke dalam daftar rekornya.

“Saya bertanya di sini pernah lihat atau dengar enggak, ada sayembara desain arsitektur dengan peserta 728 desain dan bagus-bagus semua?” ujar Jaya Suprana di perhelatan tersebut, Selasa.

Sebagai informasi, Kementerian Pariwisata sudah memutuskan 10 destinasi prioritas wisata, yg mereka perkenalkan sebagai “10 Bali Baru”. Penetapan ini sejalan dengan target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2019.

Kesepuluh destinasi itu adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo-Flores, Wakatobi, dan Morotai.

Sebagai bagian dari strategi bagi menarik sebanyak mungkin wisatawan ke Indonesia, homestay dipilih sebagai solusi cepat dan tepat buat membangun amenitas. Amenitas adalah istilah teknis bagi fasilitas pendukung buat kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di destinasi.

KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT Foto dari smartphone memamerkan homestay bergaya rumah panggung, Rinjani Family Homestay, di Desa Sembalun Lawang, Lombok Timur. Aktivitas Gunung Barujari di Kaldera Gunung Rinjani, tak banyak mempengaruhi kehidupan warga Desa Sembalun Lawang yg letaknya di sebelah timur gunung, karena abu vulkanik kelihatan mengarah ke barat.

Targetnya, masyarakat dapat dengan cepat membangun 100.000 homestay dalam tiga tahun ke depan. Kementerian Pariwisata pun menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan PT BTN (persero) Tbk bagi bersinergi membangun 100.000 homestay dan 50.000 toilet publik di destinasi pariwisata pilihan.

Saat peluncuran sayembara, Arief menyebutkan homestay tersebut mulai dijual kepada masyarakat dengan mekanisme kredit pemilikan rumah. “Suku bunga tetap sebesar 5 persen dan uang muka 1 persen. Jadi jatuhnya sangat murah, dan tak mulai ada yg lebih murah dari itu,” ujar dia.

Program tersebut mulai dimulai pada 2017. Di sinilah peran sayembara—yang dilaksanakan oleh Tim Percepatan 10 Top Destinasi pimpinan Hiramsyah Sambudhy Taib—itu, sebagai cara cepat mendapatkan desain terbaik buat rujukan pembangunan ribuan homestay itu.

Berikut ini daftar pemenang Sayembara Desain Arsitektur Nusantara 2016:
Danau Toba:
Tim PT Realline Studio, Ketua Tim Deni Wahyu Setiawan dengan judul karya Jabu Na Ture.
Tanjung Kelayang:
Tim Alvasara Ketua Tim Gigih Nalendra dengan judul karya Thin House
Tanjung Lesung:
Tim Arsitek Ketua Tim Edwin Adinata dengan judul karya New Gateway to Adventure In The West Eage Of Java.
Kepulauan Seribu:
Tim PT Urbane Indonesia Ketua Tim Aditya Wiratama dengan judul karya Titik Temu .
Borobudur:
PT Urbane Indonesia Ketua Aditya Wiratama dengan judul karya Gnomon Urip.
Bromo Tengger Semeru:
Tim PT Grahaciota Ketua Tim Verena Rafaela dengan judul karya Dusun Guyub Bromo.
Mandalika:
Universitas Mercu Buana Ketua Tim Wendi Isnandar dengan judul karya Rumah Separo Mandalika.
Labuan Bajo:
Tim Blur Architec and Design Studio Ketua Tim Rizki Bhaskara dengn judul karya Naung Kampung Papagaran.
Wakatobi:
Tim PT Airmas Asri Ketua Tim Kalvin Widjaja dengan judul karya Roma Boe
Morotai:
PT Studio Tanpa Batas Ketua Tim Wijaya Suryanegara Yapeter dengan judul karya Rumahku a Home to Stay.
Sumber: http://travel.kompas.com