Menjaga Subak, Memuliakan Peradaban

By | November 1, 2016

SUATU siang menjelang sore di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, pertengahan bulan ini. Sinar matahari yg terik membuat udara terasa panas meski angin bertiup sepoi-sepoi.

Beberapa rombongan wisatawan mancanegara bersemangat menyusuri jalan menurun di tengah hamparan sawah. Mereka mengenakan sepatu kets dan tas punggung.

Jalan itu bukan pematang sawah yg sempit. Ukurannya cukup lebar ‎sehingga wisatawan mampu berjalan dengan nyaman berkilo-kilometer, mengikuti kontur sawah yg menurun hingga mencapai pura kecil di dasar persawahan.

Para wisatawan mancanegara penasaran dengan subak, sistem pengelolaan air bagi persawahan di Bali, yg tidak cuma meliputi pengairan tapi juga melibatkan ritual adat dan merangkul peran komunitas.

Rafael, wisatawan yang berasal Polandia, merasa nyaman berada di hamparan sawan. Peluhnya bercucuran. Ia menikmati perjalanan. ”Subak terkenal di dunia. Saya suka sawah, tak ke pantai,” ucapnya.

(BACA: Jatiluwih Jadi Ikon Pariwisata Tabanan)

Sawah di Jatiluwih memang memesona. Ratusan wisatawan mendatangi Jatiluwih saban hari. ”Pemandangan sawah di sini memang diburu wisatawan,” kata Made Kanti, pemandu wisata yg mengantar Rafael dan temannya ke Jatiluwih, pertengahan Oktober 2016.

Ketut, penjaga karcis di Subak Jatiluwih, mengatakan, setiap hari, 200-300 wisatawan mancanegara datang. Jumlahnya melonjak pada Juni-Agustus, mencapai hingga lebih dari seribu orang per hari. Jumlah itu belum ditambah dengan wisatawan dalam negeri.

Mendunia

Cerita subak mendunia karena menjadi situs warisan dunia yg dicatatkan di UNESCO pada 2012. Subak yg ditetapkan adalah Subak Jatiluwih dan belasan subak yang lain yg masuk dalam kawasan Catur Angga Batukaru.

KOMPAS/AGUS SUSANTO Sistem pengairan subak dan terasering serta pupuk organik dari kotoran hewan diterapkan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (2/2/2011).

Subak-subak itu berlokasi di Kabupaten Tabanan dan Buleleng. Pekaseh (Ketua) Subak Jatiluwih I Nyoman Sutama menjelaskan, penetapan Subak Jatiluwih sebagai situs warisan budaya dunia mendorong kunjungan wisatawan ke desa-desa bersubak. Jatiluwih juga menjadi lokasi riset dan studi lapangan peneliti dalam dan luar negeri.

(BACA: Laklak Pisang, ‘Crepe’ Asli Tabanan yg Terancam Punah)

Persoalan subak mengemuka dalam Forum Budaya Dunia (WCF) 2016 di Nusa Dua, Bali, 10-14 Oktober. Para pembicara dan delegasi dari puluhan negara tiba ke Jatiluwih bagi melihat segera subak. Pembahasan subak dikaitkan dengan ketersediaan dan fungsi air buat kehidupan serta rekonsiliasi pertumbuhan sosio-ekonomi dengan etika lingkungan.

Semua pihak sepakat, subak harus dipertahankan. Namun, diakui tantangan yg dihadapi subak kian besar. Subak-subak terancam proyek pembangunan yg menuntut alih fungsi lahan pertanian. Pasokan air bagi pertanian yg menyusut juga menggelisahkan. ”Sawah seperti berebut air dengan permukiman,” tutur Sutama.

Di Jatiluwih, lahan pertanian mendapat pasokan air dari sejumlah sungai yg mengalir di Tabanan, antara yang lain Yeh Pusut, Yeh Baas, dan Yeh Ho. Air irigasi dibagi bagi mengairi tujuh kelompok subak di Jatiluwih, antara yang lain Subak Kedamian, Umaduwi, Kesambi, Besi Kalung, dan Gunung Sari. Luas sawah di Subak Jatiluwih mencapai 303 hektar dengan 217 anggota.

Penyusutan pasokan air membuat Ketut, warga Tabanan, mempertanyakan keberlangsungan pertanian di Bali. ”Hanya sawah yg kalian punya. Namun, apakah sawah mampu menghidupi? Kami tanam padi di 50 are (satu are setara 100 meter persegi), paling banyak mendapat Rp 20 juta. Itu bagi hidup empat bulan. Menjadi petani berat,” papar karyawan swasta yg mewarisi sedikit lahan sawah dari ayahnya.

Kaum muda

Pengurus Kelompok Subak Umaduwi di Jatiluwih I Nyoman Suryanata khawatir pertanian kehilangan generasi penerus. Kaum muda semakin jarang bekerja di sawah karena bertani dinilai kurang bergengsi.

”Apakah ada anak-anak yg mau menjadi petani?” ujar Suryanata dalam forum sosialisasi tentang kearifan subak yg diselenggarakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Kantor Desa Jatiluwih, beberapa minggu silam.

Peserta kegiatan sosialisasi yg mayoritas adalah pelajar sekolah menengah atas di Penebel, Tabanan, terdiam, entah karena bimbang atau bingung bagi menjawab pertanyaan itu.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Sawah berundak-undak di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (10/4/2013).

Kepentingan pariwisata cuma salah sesuatu penopang yg mampu mencegah petani ‎untuk menjual lahan. Namun, berapa rupiah dari wisatawan yg masuk ke kantong petani?

Mungkin tinggal nilai-nilai kearifan dan sejarah yg dapat membuat anak muda mau mempertahankan subak. Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional I Made Geria menyatakan, Jatiluwih tidak cuma memiliki subak, tapi juga warisan budaya megalitikum dari masa perundagian. Warisan budaya megalitikum ini masih disakralkan karena berfungsi dalam pemujaan.

Peninggalan itu juga memiliki makna kearifan dalam pengelolaan sumber daya lingkungan. ”Masyarakat mewarisi, memelihara, dan memanfaatkan tradisi itu bagi melestarikan lingkungan,” kata Geria. (Cokorda Yudistira/Susi Ivvaty)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Oktober 2016, di halaman 6 dengan judul “Menjaga Subak, Memuliakan Peradaban”.

Sumber: http://travel.kompas.com