Berani Tak Pakai Sabun Mandi Dan Pasta Gigi Di Baduy Dalam?

By | November 2, 2016

KOMPAS.com – Mencicipi suasana bersanding dengan alam, boleh jadi, adalah kondisi tatkala angin menerpa daun-daun bambu. Gemerisik suaranya meneduhkan hati.

Bisa juga, bersua dan bersehati dengan alam adalah suasana nan tenteram menikmati kicauan burung dan deburan air sungai. Percayalah, sensasinya luar biasa!

Sejatinya, untuk orang-orang kota, sebagaimana halnya warga Jakarta, kesempatan bagi menggapai kenikmatan tersebut bukan hal nan sulit. Soalnya, jarak antara pusat kota Jakarta yg riuh rendah dengan Desa Kanekes “hanya” 120 kilometer jauhnya.

Ya, di Desa Kanekes itulah tawaran menikmati kebersahajaan alam dan penduduknya sungguh-sungguh ada.

Sekelebat, mendengar kata Kanekes membuat banyak khalayak mengernyitkan dahi, mengangkat kedua bahu, berkata,”Tidak tahu.”

Kendati begitu, tatkala Baduy tersodorkan, barulah, lebih banyak orang mafhum. “Oh, iya, tahu!”

Kanekes, tidak yang lain dan tidak bukan adalah nama yang lain bagi Desa Baduy di Provinsi Banten. Persisnya, desa itu berada di Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak. Andai diukur dari ibu kota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, ada jarak 75 kilometer ke arah selatan yg mesti ditempuh menuju Desa Kanekes.

Warga yg berasal dari Jakarta, dapat memanfaatkan Kereta Api (KA) Kalimaya relasi Stasiun KA Tanahabang-Rangkasbitung. Per 1 Maret 2016, seturut laman kereta-api.co.id, perjalanan KA dengan lokomotif diesel penarik enam gerbong kelas bisnis itu hanya sesuatu kali dari Tanahabang dan sesuatu kali dari Rangkasbitung. Tiket per penumpang Rp 30.000, sekali jalan.

Sementara itu, buat warga Ibu Kota berkantong pas-pasan, silakan memanfaatkan KA Lokal Rangkasbitung-Tanahabang dan berakhir di Stasiun Angke. KA kelas ekonomi ini mempunyai lebih dari delapan kali keberangkatan pergi pulang. Hanya perlu beberapa lembar uang kertas Rp 2.000 buat sebuah tiket sesuatu nama sekali perjalanan.

Tiba di Rangkasbitung, giliran Anda melanjutkan perjalanan  kendaraan umum maupun mobil sewaan. Rute yg harus ditempuh adalah Rangkasbitung-Ciboleger sekitar beberapa setengah jam. Ciboleger adalah pintu masuk ke Kanekes.

IST Nuri Sybli (memegang kamera) di tengah anak-anak Suku Baduy dari kelas membaca Suku Baduy.

Luar dan Dalam

Desa Kanekes atau selanjutnya ditulis Baduy berada di perbukitan Gunung Kendeng. Menurut penelitian sejak 1960 oleh guru besar emeritus Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (FISIP Unpad) Bandung, Prof.Judistira K. Garna, Ph.D sebagaimana termaktub pada laman unpad.ac.id, ada beberapa bagian besar warga Baduy di wilayah yg terbentang akan Kecamatan Leuwidamar sekarang hingga Pantai Selatan Banten. Bagian itu adalah paruh besar Baduy Luar dan paruh besar Baduy Dalam.

Sekarang, seturut tulisan pada laman pesonaindonesia.travel, luas wilayah Baduy ini sekitar 5102 hektar. Batas wilayah terkini dibuat pada permulaan abad ke-20 bersamaan dengan pembukaan perkebunan karet di Desa Leuwidamar dan sekitarnya.

Hal paling menarik, Baduy bukanlah nama asli dari komunitas di Kanekes. Laporan-laporan tertulis peneliti etnografi Belanda, yakni Hoevell pada 1845, Meijer (1891), dan Pleyte (1909) menyebut komunitas itu sebagai badoe’i, badoei, dan badoewi.

Nama-nama tersebut, besar kemungkinan, merujuk nama bedoin atau badawi. Khususnya di Arab, nama-nama itu bagi menyebut komunitas nomaden atau berpindah-pindah.

Sejak itulah, Baduy lebih populer alias dikenal meluas baik di dalam maupun di luar negeri. Padahal, anggota komunitas di Kanekes justru lebih menyebut diri sebagai “Urang Kanekes” atau orang Kanekes.

Total ada 56 kampung di Desa Baduy dengan jumlah penduduk sekitar 8.000 jiwa. Tiga kampung di antaranya yakni Cikeusik, Cibeo, dan Cikertawana dihuni oleh orang Baduy Dalam. Setiap kampung dipimpin seorang puun dan wakilnya yg disebut jaro.

Masing-masing puun ini memiliki peran berbeda. Puun Cibeo mengurusi pertanian, Puun Cikeusik mengurusi keagamaan, dan Puun Cikertawana bertanggung jawab bagi urusan kesehatan atau obat-obatan. Tanggung jawab itu berlaku secara kolektif buat ketiga kampung tersebut.

Selebihnya, ada 53 kampung, berisi orang Baduy Luar. Baduy Luar kadang disebut kampung panamping atau pendamping yg berfungsi menjaga Baduy Dalam.

Sehari-hari, lelaki Baduy Dalam mengenakan pakaian dan ikat kepala putih. Adapun para lelaki Baduy Luar memakai baju hitam dan sarung selutut berwarna biru tua bercorak kotak-kotak. Ikat kepala mereka berwarna biru.

Kaum perempuan, baik Baduy Dalam maupun Luar, memakai sarung batik biru, kemben biru, baju luar putih berlengan panjang. Para gadis memakai gelang dan kalung dari manik.

Ada perbedaan mencolok antara Baduy Luar dan Baduy Dalam. Orang Baduy Luar diperkenankan oleh adat istiadat bagi berkendara ketika melakukan perjalanan.

Seniman Jodhi Yudhono saat melantunkan musikalisasi puisi pada perhelatan “Rayakan Perbedaan Baduy Kembali” di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (6/4/2016) silam, menyebut bahwa warga Baduy Luar telah mengenakan celana jins, kaus sepak bola, hingga memanfaatkan ponsel cerdas. (Baca: Bercerita tentang Baduy Masa Kini Lewat Musik).

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Lampur solar cell, dijemur oleh warga Baduy di Kampung Gajeboh, Desa Kanekes, Lebak, Banten, Selasa (1/3/2016). Lampu solar cell menjadi salah sesuatu tanda perubahan yg akan terjadi di kampung Baduy, terutama Baduy luar.

Sementara itu, bertolak belakanglah kehidupan warga Baduy Dalam. Mereka setia berjalan kaki tatkala melakukan perjalanan. Kejujuran terus berada di barisan terdepan kehidupan warga Baduy Dalam.

Serentetan kearifan lokal pun masih setia dijalankan warga Baduy Dalam. Selalu ada penolakan mencemari lingkungan yakni tanah dan air. Warga Baduy Dalam bahkan tak menghisap rokok.

Di dalam kehidupan warga Baduy Dalam, pikukuh atau aturan adat adalah harga mati. Mereka, misalnya, tidak mulai mau menyantap macam makanan yg tak dimakan nenek moyang mereka.

Ya, kebiasaan yg tidak dijamah oleh nenek moyang mereka pun pantang dijalankan. Barang siapa melanggar aturan adat bakal menanggung sanksi tegas, dipecat sebagai warga Baduy Dalam!

Orang Baduy yakin bahwa mereka adalah keturunan Batara Cikal, sesuatu dari tujuh dewa yg diutus dari langit ke Bumi. Batara Cikal, untuk orang Baduy acap dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Tugas Adam dan keturunannya, termasuk orang Baduy, adalah bertapa bagi menjaga harmoni dunia.

Kepercayaan orang Baduy adalah penghormatan pada roh nenek moyang dan kepercayaan kepada sesuatu kuasa yg dinamakan Nu Kawasa. Keyakinan mereka kadang disebut dengan Sunda Wiwitan.

Orientasi, konsep-konsep, dan kegiatan-kegiatan keagamaan ditujukan kepada pikukuh (aturan adat) agar orang hidup menurut alur itu dan menyejahterakan kehidupan Baduy dan dunia.

Kepercayaan orang Baduy yg disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang. Pemujaan ini kemudian  berkembang pula oleh pengaruh agama Buddha, Hindu, dan Islam.

Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yg dianut dalam kehidupan sehari-hari. Isi terpenting dari pikukuh orang Baduy  adalah konsep tanpa perubahan apa pun atau perubahan sesedikit mungkin.

Sejak 1990 Pemda Lebak menyatakan bahwa kawasan masyarakat Baduy yaitu cagar budaya melalui Peraturan Daerah Nomor 13/1990. Beleid itu membuat warga Baduy leluasa mempertahankan warisan leluhur, termasuk menjaga kelestarian hutan dan sungai.

KOMPAS TV/ANJAS PRAWIOKO Kang Herman dan kawan-kawan makan malam dan menginap di gubuk tengah sawah.

Mari berjalan kaki!

Ciboleger adalah awal dari perjalanan berjalan kaki menikmati alam menuju wilayah Baduy Dalam. Mulai dari sini, banyak warga Baduy Luar yg mampu menjadi pemandu Anda.

Lantaran mesti berjalan kaki, hal paling utama adalah persiapan fisik. Laman sahabatbudayaindonesia menunjukkan bahwa selain fisik, sikap mental juga diperlukan buat memberi penghormatan kepada beragam peraturan Baduy Dalam.

Sebutlah misalnya, pengunjung tak diperkenankan membawa tape, radio, gitar, dan senapan angin. Kemudian, ada juga larangan membuang sampah sembarangan,
tidak menebang pohon, tidak meninggalkan api di hutan, tak mengonsumsi minuman memabukkan, apalagi sampai melanggar norma susila.

Warga Baduy Dalam menjalankan tradisi Kawalu, sebagaimana tulisan pada laman phinemo.com. Kawalu adalah puasa yg dijalankan oleh warga Baduy Dalam yg dirayakan pada pertengahan Februari hingga tiga bulan ke depan. Pada puasa ini warga Baduy Dalam berdoa kepada Tuhan agar negara ini diberikan rasa aman, damai, dan sejahtera.

Pada ketika tradisi Kawalu dijalankan, para pengunjung dilarang masuk ke Baduy Dalam. Apabila ada kepentingan, biasanya pengunjung cuma diperbolehkan berkunjung sampai Baduy Luar, namun tak diperbolehkan menginap.

Satu catatan dari laman badpackers.blogspot.co.id menunjukkan bahwa sesuatu jam perjalanan berjalan kaki, Anda masih berada di wilayah Baduy Luar. Sementara itu, perjalanan berikutnya hingga beberapa jam ke depan, ditandai dengan jalan mendaki, adalah wilayah Baduy Dalam. Di situ, jarak antara rumah-rumah khas Baduy akan kelihatan renggang.

Penanda lainnya adalah kian banyaknya hamparan sawah tadah hujan. Di wilayah Baduy Dalam, penduduk memang mengandalkan sawah tadah hujan bagi penanaman padi macam gogo rancah.

Wilayah Baduy Dalam yg relatif lebih tinggi ketimbang Baduy Luar berhawa dingin. Terlebih pada malam hari. Maka dari itulah, jaket penahan dingin utama bagi Anda bawa.

Pada malam hari, penanda paling kentara di Baduy Dalam adalah ketiadaan aliran listrik. Jadi, jangan harap dapat mengisi daya ponsel cerdas Anda di sini!

Nah, ada baiknya Anda membawa senter sebagai alat bantu penerangan. Senter dengan sumber energi batere ini dapat diandalkan ketika beraktivitas pada keadaan gelap gulita.

Kalau hendak mandi di sungai belakang rumah warga Baduy Dalam, Anda mesti ikuti aturan mainnya. Peraturan itu seperti dipaparkan pada laman negeribadri.com.

Sungai di Cibeo mengalir lembut setinggi lutut. Airnya bersih dan sejuk. Meskipun, hujan baru saja mengguyur perkampungan. Mandi di sungai berbatu menjadi sensasi luar biasa. Tak ada sampah dan benda pencemar. Sifat alaminya menyatu dengan kehidupan penduduknya yg bersahaja.

Mandi cukup dengan menyiram air ke tubuh. Harum sumber air alami telah cukup menyegarkan. Apalagi di sekitar sungai tumbuh kembang-kembang liar nan wangi. Camkan, kegiatan mandi dan sikat gigi di sini tidak boleh memakai sabun dan pasta gigi!

Bagaimana, Anda berani? Selamat berpetualang!

Sumber: http://travel.kompas.com