Ingat-ingat Inga Raya

By | November 3, 2016

BERBATASAN dengan Provinsi Sumatera Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan, cita rasa masakan Bengkulu banyak mendapat pengaruh dari ketiga daerah tersebut. Pengaruh tersebut melebur membentuk identitas tersendiri buat masakan bengkulu. Seperti apa?

Jika kebetulan sedang berkunjung ke Bengkulu dan ingin mencicipi masakan khas Bengkulu, salah sesuatu yg mampu dikunjungi adalah Rumah Makan Inga Raya di Jalan Pantai Pariwisata.

Bisa dicapai 5-10 menit dari pusat Kota Bengkulu, lokasi Inga Raya berada di tepi pantai sehingga pengunjung mendapat bonus pemandangan laut lepas yg menawan.

Inga yaitu panggilan buat kakak perempuan tertua di Bengkulu. Adapun Raya yaitu panggilan akrab Rokhayani, nama pemilik rumah makan ini yg menjadi kakak tertua di keluarganya. Rokhayani menjadi kunci cita rasa masakan Inga Raya. Ia masih memasak segala menu yg disajikan.

Pengunjung mampu memilih bagi duduk di kursi-kursi yg menghadap meja atau di dalam saung-saung yg berkeliling bagian luar rumah makan.

Konsep makannya serupa dengan di rumah makan padang, yakni seluruh macam makanan disajikan dalam piring-piring dulu pengunjung memilih apa yg ingin disantap.

Karena lokasinya yg dekat dengan laut, makanan yg diolah sebagian besar adalah sari laut. Sajian itu dilengkapi dengan olahan sayur-sayuran sebagai penyeimbang.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO Bagar Hiu di Rumah Makan Inga Raya di tepi Pantai Pariwisata, Kota Bengkulu.

Siang itu di hadapan kita tersedia gulai kepala kakap, tempoyak udang, bagar hiu, pendap ikan pais, kepala kakap ruku-ruku, rebung asam, dan gulai timun cendawan. Ada pula sayur terung, kacang panjang, daun unji, dan bunga kecombrang yg dimasak dengan kuah santan.

Meskipun hampir segala masakan memakai santan, rasa masakan tersebut tetap terasa ringan di lidah karena santan tak kental. Itulah salah sesuatu yg membedakan masakan bengkulu dengan daerah sekitarnya.

Salah sesuatu makanan favorit kita adalah pendap ikan pais. Penampilannya mirip pepes. Rizki (29), pengelola rumah makan Inga Raya, mengatakan, ikan yg diolah buat pendap ikan pais biasanya sejenis ikan kakap, tapi mampu juga macam ikan yg lain.

Ikan digiling hingga halus dulu dicampur dengan berbagai bumbu, seperti parutan kelapa muda, asam, laos, kunyit, kemiri, ketumbar, bawang merah, bawang putih, daun jeruk purut, dan cabai.

Campuran ikan dan bumbu itu kemudian dibungkus daun keladi atau daun talas. ”Daun keladi dibersihkan, dulu dipakai membungkus adonan. Daunnya jangan yg setelah kena hujan, nanti bikin gatal tenggorokan,” kata Rizki.

Selain itu, daun keladi harus sering-sering diambil buat dimasak. Pastikan juga, daun keladi benar-benar bersih saat dicuci buat menghindari gatal.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO Pendap Ikan Pais di Rumah Makan Inga Raya di tepi Pantai Pariwisata, Kota Bengkulu.

Daun keladi yg sudah diisi olahan ikan kemudian direbus selama dua jam di dalam air yg diberi garam, daun salam, dan serai bagi mengeluarkan aroma khasnya. Setelah matang, balutan daun keladi yg mirip bungkusan ini kemudian dibelah menjadi dua bagian.

Begitu dicicipi, rasa rempah yg kuat segera menyapa lidah dengan dominasi rasa kunyit di sana. Demikian pula rasa pedas cabai yg menyengat, membuat lidah panas, tapi nikmat.

Ikan yg lembut berpadu dengan daun keladi yg bertekstur. Jika dimakan dengan nasi putih panas, hampir pasti tak mulai cukup seandainya cuma ditemani dengan sesuatu potong pendap ikan pais ini.

Selain pendap, tempoyak udang juga menjadi menu yg wajib dicoba. Masakan ini terbuat dari fermentasi durian yg ditambah cabai giling dan santan.

Asam, manis, pedas berpadu menjadi rasa penting yg mengiringi bahan makanan yg dicampur dengan tempoyak ini. Jika tak suka udang, mampu diganti dengan ikan atau cumi.

Menu favorit lainnya adalah kepala kakap ruku-ruku, yakni kepala kakap dengan kuah gulai yg tak kental ditambah daun ruku-ruku. Daun ini mirip daun kemangi yg memberi rasa segar dan menetralisir aroma amis ikan.

Kuah gulai

Rata-rata masakan bengkulu mengandung kuah gulai. Sayur yg dimasak pun kerap dibubuhi kuah gulai. Hanya saja, gulai pada masakan bengkulu tak sekental dan sepekat gulai dari daerah lainnya.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO Berbagai macam makanan khas Bengkulu di Rumah Makan Inga Raya.

Cita rasanya pun lebih ringan sehingga menyantap sekaligus dua macam masakan yg mengandung gulai pun masih mampu ditolerir oleh perut.

”Kadang-kadang ada pengunjung yg minta makanan baru dimasak ketika itu dengan santai yg lebih cair dan itu kita layani,” kata Rizki.

Salah satunya masakan bergulai itu adalah gulai timun cendawan. Timun yg dimasak dipilihkan dari yg telah tua agar tak pahit. Cendawan atau jamur yg berwarna coklat disuwir kecil-kecil. Rasanya kenyal seperti daging.

Rebung asam pun dimasak dalam kuah gulai. Seperti namanya, rasanya sedikit asam dan segar. Cocok bagi mengimbangi masakan yang lain dengan rasa rempah yg lebih kuat.

”Hampir 70 persen masakan bengkulu menggunakan santan. Rata-rata dimasak gulai, cuma isinya yg berbeda sehingga rasanya pun berbeda. Bumbunya juga lebih halus, tak pekat. Di tempat kita gulainya dibuat ringan dan tak terlalu kental,” kata Rizki.

Diberkati dengan lautan, sari laut yg disajikan Inga Raya juga segar karena segera diperoleh dari tangkapan para nelayan. Namun, karena alam tak pernah dapat diprediksi, kadang-kadang mereka juga kekurangan ikan karena nelayan tak melaut.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO Kepala Kakap Kuru-kuru di Rumah Makan Inga Raya di tepi Pantai Pariwisata, Kota Bengkulu.

Seperti ikan gleberan, menu favorit lain, yg hari itu tak dapat kalian santap karena tak ada pasokan dari nelayan. Sudah sepekan ikan itu absen dari tangkapan nelayan. Biasanya ikan gleberan yg sebesar ibu jari itu digoreng garing dulu disantap dengan sambal.

Sejak dibuka tahun 2011, Inga Raya ramai didatangi pengunjung. Tidak sedikit yg berasal dari luar kota cuma buat menikmati beragam masakan khas Bengkulu di sini.

Rumah makan buka pukul 09.00-21.00. Selesai bersantap, pengunjung dapat menikmati deburan ombak berteman angin laut yg segar. Perut kenyang, hati riang. Aaah, nikmatnya…. (FRANSISCA ROMANA NINIK & SRI REJEKI)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Agustus 2016, di halaman 29 dengan judul “Ingat-ingat Inga Raya”.

Sumber: http://travel.kompas.com