Menpar: Indonesia Butuh 30 Juta Kursi Pesawat

By | November 4, 2016

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia membutuhkan 30 juta kursi pesawat bagi mencapai target wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 20 juta pada 2019. Saat ini kapasitas kursi di pesawat masih tersedia sekitar 20 juta.

Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata bersama Angkasa Pura 1, Angkasa Pura 2, dan AirNav Indonesia menjalin kerja sama bagi meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia.

Tahun 2019 target kunjungan wisatawan mancanegara dari Presiden (sebesar) 20 juta. Itu butuh 30 juta seat,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jakarta, Kamis (3/11/2016).

Arief menyampaikan kapasitas kursi pesawat bagi membawa kunjungan wisman ketika ini masih kurang. Ia menjelaskan Indonesia cuma memiliki kapasitas sebanyak 20 juta kursi penumpang.

“Jumlah itu cuma cukup dapat mendatangkan 12 juta wisman. Sehingga buat tiga tahun ke depan kalian kurang 10 juta. Kalau mau dirata-rata kami kurang 3,3 juta kursi pesawat per tahun,” jelasnya.

KOMPAS/SUSI IVVATY Wisatawan asing mengunjungi Desa Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali, buat melihat persawahan yg masuk dalam sistem pengairan subak, pertengahan Oktober 2016.

Ia melanjutkan bagi target tahun 2017 yakni sebanyak 15 juta wisman, Indonesia masih kurang 3,3 juta kursi pesawat. Menurut Arief, hal itu sudah dibicarakan dan disepakati oleh Angkasa Pura 1, Angkasa Pura 2, dan AirNav Indonesia buat mengatasi hambatan tersebut.

Direktur Utama PT Angkasa Pura I Danang S. Baskoro menyebut pihaknya mulai langsung menyiapkan langkah-langkah bagi tidak mengurangi kapasitas kursi pesawat dalam jangka pendek. Ia menyebut mulai tidak mengurangi jam penerbangan di bandara-bandara di bawah koordinasi Angkasa Pura 1.

“Kita mulai melihat slot penerbangan yg mampu ditingkatkan. Terutama bagi di Bali, kalau dapat buat pesawat-pesawat kecil, dibandingkan dengan adanya permintaan pesawat besar mengalah dulu. Kalau dapat pesawat yg kecil di Lombok,” jelas Danang.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menyampaikan pihaknya berkonsentrasi terhadap destinasi-destinasi wisata baru di Indonesia. Ia mencontohkan hal yg prioritas AP 2 dengan adanya pengembangan landasan pacu Bandara Silangit.

KOMPAS.com/SRI LESTARI Badara Ngurah Rai Bali

AP 2, menurut Awaluddin, tengah menjalankan program Improved Runway Capacity 86 (IRC 86) di Bandara Soekarno-Hatta. Hal itu buat meningkatkan pergerakan pesawat dari 72 pergerakan per jam menjadi 86 pergerakan.

“Tentu AirNav mulai banyak membantu. Kita sedang kolaborasi dengan AirNav. Itu sejalan dengan program Kementerian Pariwisata,” tambahnya.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Bambang Tjahyono mulai menerapkan slot management antar-bandara. Hal itu mulai memudahkan maskapai menghemat bahan bakar.

“Nantinya hal itu mulai menghemat biaya penerbangan,” ujarnya.

Adapun Kesepakatan kerja sama dalam nota kesepahaman tersebut antara yang lain meliputi; pertukaran data, informasi, dan promosi bersama (joint promotion) bagi menunjang kegiatan promosi pariwisata Indonesia di pasar internasional dan domestik; membuat analisis dan kajian bersama mengenai konektivitas udara yg dibutuhkan wisman dan wisnus.

Selain itu yakni melakukan upaya sinkronisasi rencana pengembangan kapasitas bandara dengan rencana pengembangan destinasi pariwisata dalam rangka mencapai target pariwisata nasional; serta penyediaan sarana tourism information center di bandara udara internasional maupun domestik.

Sumber: http://travel.kompas.com