“Surga” Wakatobi Tak Melulu Bahari

By | November 5, 2016

KOMPAS.com – Wakatobi adalah “surga” untuk pecinta bahari. Pantai, lautan jernih, dan terumbu karang yg masih utuh, yaitu suguhan dari kerajaan laut yg teramat lezat untuk para penyelam. Namun, apakah cuma penyelam yg dapat menikmati “surga” ini?

“Wakatobi itu (bak) surga di zamrud khatulistiwa, tidak hanya untuk mereka (pecinta aktivitas bahari),” ujar Hilda B Alexander, wartawati yg juga gemar berkelana, Senin (31/10/2016).

Hilda pun bercerita, pesona Wakatobi juga tiba dari keramahan alam dan warga setempat. Menurut dia, pendapat itu bukan cuma tiba dari dirinya.

Nice place and people around here are friendly,” kutip Hilda dari Claudia Mauridfz, peneliti BlueVentures yang berasal Guatemala yg dia temui ketika bertandang ke Kaledupa, akhir bulan lalu.

(Baca juga: November-Desember ke Wakatobi, Jangan Ketinggalan Festival Ini!)

Kaledupa adalah sesuatu pulau yg menjadi bagian penggalan nama Wakatobi. Tak banyak orang tahu, Wakatobi yaitu singkatan dari Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, empat pulau penting dari kabupaten di Sulawesi Tenggara ini.

Nah, yg juga tidak segala orang tahu, Wakatobi milik pula banyak hal menarik selain soal bahari. Sebut saja soami, siapa pernah dengar sajian kuliner tersebut? Atau terbayang suguhan bulu babi di meja makan?

KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Menu kuliner lokal yg mampu dinikmati para pelancong di Wakatobi, merupakan soami, kukusan bulu babi, kosea no-kaudafa, dan kentanidole.

“(Soami) ini kukusan singkong, jadi makanan pokok dan sumber karbohidrat warga. Bulu babi dikukus tanpa bumbu jadi protein hewani. Lalu, ada kosea no-kaudafa atau sayur daun kelor, sambal dabu-dabu, dan kentanidole alias nugget ikan,” cerocos Hilda soal salah sesuatu menu santapannya ketika di Wakatobi.

Untuk benar-benar kenal Wakatobi—tak hanya dari sisi bahari—beragam festival telah ditetapkan pemerintah sebagai agenda rutin. Kekayaan budaya dan kuliner telah pasti jadi menu dalam festival-festival ini.

(Baca juga: Buat Apa “Ngurusin” Pariwisata?)

Sampai akhir 2016, masih ada Festival Tomia pada 3-6 November 2016 serta Wakatobi Wonderful Festival and Expo (WWFE) pada 1-3 Desember 2016.

“WWFE yaitu puncak seluruh festival selama setahun,” kata PIC Destinasi Wakatobi dari Kementerian Pariwisata, Arie Prasetyo, Rabu (12/10/2016).

Bagi pegiat sosiologi dan pendidikan, Wakatobi milik pula sejumput cerita soal upaya memastikan anak-anak nelayan mendapatkan pengajaran. Soal ini, pelancong atau peneliti mampu menyambangi Desa Bajo Mola.

Di desa itu, ada Sekolah Maritim, khusus bagi anak-anak nelayan yg putus sekolah. Berbentuk rumah panggung seperti permukiman warga, sekolah ini memiliki karamba sebagai bagian dari pengajaran.

Pada jam istirahat, siswanya diizinkan memancing ikan buat ditaruh ke dalam karamba tersebut.

“Nantinya, anak-anak yg berprestasi (di kelas) berhak mendapatkan hasil penjualan ikan (yang terkumpul) di karamba itu,” kata Pembina Sekolah Maritim, Samran, seperti dikutip Kompas.com, Sabtu (8/8/2015).

Masih soal belajar, Desa Bajo Mola juga menjadi peluang buat pelancong belajar ilmu perbintangan dari penduduk lokal, merupakan Suku Bajo. Suku ini sedari dahulu dikenal akrab dengan ilmu falak alias astronomi, sebagai bagian dari bekal mereka yg memang tumbuh dan besar di laut.

Mengemas “surga”

Sayangnya, pesona Wakatobi memang masih lebih banyak dinikmati para penyelam dan wisatawan “serius”. Maklum, sebelum Oktober 2016 tidak banyak akses yg mampu menjadi cara orang tiba ke sana.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Jejak yg ditinggalkan ketika surut air laut pada pasir pantai di Pantai Patuno, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (20/6/2016).

Baru setelah kepulauan tersebut ditetapkan sebagai destinasi prioritas, beragam program dirancang buat lebih mengenalkan dunia pada sang surga bawah laut di khatulistiwa ini.

“Kami butuh Rp 1,2 triliun bagi membenahi kawasan ini,” kata Bupati Wakatobi, H Arhawi, dalam salah sesuatu perbincangan dengan Hilda.

Setahap demi setahap, infrastruktur dari kabupaten yg belum genap berusia 13 tahun ini ditata ulang. Bandara Matahora, misalnya, bersolek menyambut datangnya penerbangan reguler.

Kabar baik tiba dari Arie. Maskapai Wings Air, kata dia, telah memastikan jadwal penerbangan reguler ke sini.

“(Rute) Makassar-Wakatobi, direct flight, tujuh kali seminggu setiap hari akan akhir Oktober 2016,” sebut Arie.

Garuda Indonesia, lanjut Arie, telah berencana pula membuka rute Denpasar-Wakatobi. “(Rencananya) dimulai pada akhir 2016,” sebut dia.

KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Bandara Matahora di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Akses dan infrastruktur jadi fokus awal pembenahan Wakatobi karena beragam hal. Dari sisi pesona bahari, di kawasan perairan ini terdapat setidaknya 750 dari 850 macam terumbu karang yg ada di dunia.

Sampai-sampai, Pulau Hoga yg ada di antara pulau-pulau penting Wakatobi telah menjadi basis penelitian Proyek Wallacea. Di sini para peneliti dunia kerap berkumpul meneliti kekayaan terumbu karang dunia yg dipantau melalui pencitraan satelit.

Tak kurang dari oseanografer dan penemu alat selam self-contained underwater breathing apparatus (scuba), Jacques-Yves Cousteau, mengakui Wakatobi adalah surga.

“Dia (Cousteau) menyebutnya underwater nirvana,” ujar Yvone Patty, Component Manager Destination Marketing Swisscontact, kepada Kompas, Kamis (15/9/2016).

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Penyelam menikmati keindahan bawah laut di Pantai Waha, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Jumat (24/6/2016).

Buat pariwisata, penetapan Wakatobi menjadi destinasi prioritas pun milik target besar. Pada 2016, kunjungan wisatawan diharapkan menembus angka 25.000 orang, naik 8.000 kunjungan dibandingkan pada 2015.

Kunjungan wisatawan mancanegara diharapkan selalu meningkat pula. Merujuk data Badan Pusat Statistik, pada 2011 tercatat 2.274 wisatawan mancanegara menikmati “surga” Wakatobi. Angka itu melejit lebih dari beberapa kali lipat pada 2015, merupakan menjadi 6.626 orang.

Tantangan tentu saja tidak selesai di persoalan akses dan infrastruktur. Meski telah dikenal sebagai “surga bahari”, kawasan ini juga masih kekurangan para master selam berlisensi. Bahkan, belum ada sesuatu pun master selam berlisensi cave diving di sini, sementara potensi wisata gua bawah laut juga membentang.

(Baca juga: Garda Depan Wakatobi)

Jangan lupa, bicara pariwisata tidak melulu mengurusi orang-orang yg butuh leha-leha. Saat ini, pariwisata yaitu penjuru buat menjaga perekonomian nasional melaju, seperti paparan Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam beragam kesempatan.

Facebook Indonesia.Travel/Wonderful Indonesia Pemandangan bawah laut Wakatobi

Lagi-lagi, tidak cukup bila cuma Pemerintah yg berupaya mengenalkan potensi pariwisata. Cara Hilda bercerita dan memajang gambar-gambar selama berkelana, mampu jadi contoh partisipasi orang biasa ikut mendorong pariwisata Indonesia.

Bagi Anda yg juga milik hobi serupa Hilda, bagikan saja cerita-cerita perjalanan ke destinasi nusantara lewat beragam cara, termasuk melalui media sosial. Biar lebih mengena, pasang saja tanda pagar (tagar) atau hashtag #ceritadestinasi di setiap unggahan cerita Anda.

Khusus buat Twitter dan Instagram, mampu disebutkan pula @ceritadestinasi di dalam unggahan. Adapun di Facebook, fan page Cerita Destinasi mampu jadi salah sesuatu tempat memajang cerita perjalanan wisata Anda.
Sumber: http://travel.kompas.com