Mengemas Tradisi Berburu Paus

By | November 5, 2016

DENGAN memakai paledang (perahu tradisional berlayar anyaman daun pandan), 10 pria pemburu paus mendekat sasaran. Di depannya kelihatan rombongan paus macam koteklema. Seorang lamafa, orang yg bersenjata tempuling, bersiap launching senjata tersebut ke paus.

Begitu jarak paledang dengan paus semakin dekat dan mampu dijangkau, pendayung berteriak ”tuba-tuba” (tikam) buat memberikan semangat kepada lamafa buat langsung melemparkan tempuling ke paus. Lemparan disertai gerakan melompat dari depan paledang.

Tempuling adalah tombak dari bambu yg panjangnya sekitar 4 meter, dilengkapi mata tombak dari besi sepanjang 30 cm. Pada ujungnya diberi ikatan tali yg cukup kuat agar mampu digunakan bagi menarik badan paus yg berhasil ditombak.

Itulah tradisi lefa yg dikemas dalam bentuk atraksi laut perburuan paus oleh warga Lamalera, Senin (31/10/2016).

Atraksi itu digelar bagi menyambut kedatangan Deputi Bidang Sumberdaya Manusia, Iptek dan Budaya Maritim, Kemenko Maritim Safri Burhanuddin, dan pejabat Bupati Lembata Pieter Manuk yg berkunjung ke Lamalera.

Perjalanan dari Dermaga Loweleba, pusat kegiatan di Pulau Lembata menuju Desa Lamalera, ditempuh dengan kapal cepat selama sekitar 1,5 jam. Jika melalui daratan, jarak itu ditempuh hampir tiga jam.

Tradisi perburuan paus ini telah dikerjakan penduduk Lamalera sejak dua abad lampau. Carolus, salah sesuatu lamafa, menuturkan tradisi berburu paus ini telah turun- temurun sejak nenek moyang warga setempat. Tradisi ini pada gilirannya menjadi sumber penghasilan warga buat memenuhi kebutuhan hidupnya.

”Saya sejak kecil ikut paledang bagi mengambil paus di laut. Kami tidak berburu, tapi kita mengambil kiriman leluhur,” ujarnya. Hal yg sama dikerjakan Markus, warga Lamalera yg mendayung paledang sejak usia tujuh belas tahun, hingga kini di usia 84 tahun.

Warga Lamalera, menurut Bona Beding, pegiat sosial budaya Lamalera, kehidupan warga setempat amat terikat dengan budaya lefa.

Ia pun mengkhawatirkan, seandainya lefa dijadikan sebagai bagian atraksi wisata, mulai ada nilai-nilai spiritualitas yg menghilang dari masyarakat. Pasalnya, budaya lefa tersebut yaitu budaya yg hidup dalam masyarakat dan bukan budaya yg dipertontonkan.

”Pariwisata sebagai lokomatif ekonomi mampu mengkhawatirkan buat kehidupan masyarakat di Lamalera. Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya perlu membicarakan secara lebih dalam lagi tentang budaya lefa agar tak tergerus oleh kepentingan apa pun, termasuk pariwisata,” ujarnya.

Dr Blajan Konradus, pengajar dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana, Kupang, mengatakan, masyarakat Lamalera diperkirakan berasal dari Luwu, Sulawesi Selatan.

Sumber: http://travel.kompas.com