Langkah Museum Radya Pustaka Solo Menyelamatkan Transkrip Kuno

By | November 11, 2016

SOLO, KOMPAS.com – Museum Radya Pustaka yaitu museum tertua di Indonesia yg berada di Kota Solo, Jawa Tengah.

Museum ini menyimpan banyak koleksi-koleksi kuno seperti arca, prasasti, senjata kuno dan berbagai benda lainnya.

Museum milik cara tersendiri bagi menyelamatkan berbagai manuskrip kuno agar tetap awet.

Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Purnomo Subagyo, menjelaskan cara pengawetan manuskrip tersebut adalah dengan digitalisasi.

“Kalau buat menyelamatkan telah lama kami mempunyai program digitalisasi transkrip,” katanya.

“Jadi naskah-naskah lama itu supaya kontennya mampu terselamatkan itu dialihkan ke digital,” sambungnya.

Purnomo menyampaikan terdapat 400 lebih naskah di Museum Radya Pustaka dan 10 persen naskah sudah diselamatkan dengan cara dikonversi ke digital.

“Jadi nanti orang mau membaca tak harus melihat fisiknya tetapi lewat komputer bisa. Itu dari naskah Jawa ke Latin juga sudah,” katanya.

“Harusnya kan idealnya naskah lama itu yg pada abad ke-18 dengan penyelamatan itu ke digitalisasi dari tulisan jawa ke tulisan latin,” katanya.

“Dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris,” lanjutnya.

Purnomo menyampaikan museum jarang menerima atau mencari koleksi.

TRIBUNSOLO.COM/EKA FITRIANI Salah sesuatu prasasti yg tersimpan di Museum Radya Pustaka Solo, Senin (7/11/2016).

Selain manuskrip, Museum Radya Pustaka juga menyimpan bermacam koleksi antara yang lain aneka wayang, aneka logam berharga, berbagai macam keramik serta perpustakaan yg berisi buku-buku berbahasa Belanda dan Jawa dan berbagai koleksi lainnya.

Museum ini seringkali dikunjungi oleh wisatawan akan dari masyarakat Solo hingga wisatawan luar Kota Solo.

Museum ini ramai dikunjungi ketika tahun pelajaran baru dimulai. Rata-rata pengunjung adalah sekolah dan universitas dari luar Kota Solo.

Mulai Senin (7/11/2016), Museum Radya Pustaka buka akan Senin hingga Sabtu pukul 09.00-14.00 WIB. (TribunSolo.com/Eka Fitriani)
Sumber: http://travel.kompas.com