Sumur Sritanjung, Legenda Nama Banyuwangi Berasal Dari Sini

By | November 12, 2016

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Siapa yg tak mengenal nama Banyuwangi yg ketika ini menjadi nama kabupaten paling timur Pulau Jawa yg terkenal dengan julukan The Sunrise of Java.

Sebagian masyarakat mempercayai seandainya yang berasal usul nama Banyuwangi berasal dari cerita legenda Sritanjung Sidopekso yg menjadi tema Banyuwangi Etho Carnival 2016 yg digelar, Sabtu (12/11/2016).

Legenda tersebut menceritakan tentang kesetian Sritanjung, istri dari Sidopekso. Cerita berawal dari pernikahan antara Patih Sidopekso dan Sritanjung.

Tidak disangka, Sang Raja Prabu Sulah Hadi Kromo ternyata jatuh cinta pada Sritanjung dan memerintahkan Patih Sidopekso bagi mengemban tugas keluar istana dengan waktu yg cukup lama.

(BACA: Banyuwangi Ethno Carnival Digelar Akhir Pekan Ini)

Saat Patih Sidopekso pergi, Sang Prabu Sulah Hadi Kromo merayu Sritanjung namun ditolak karena Sritanjung menjaga kesetiaannya kepada Sang Patih.

Namun bencana muncul saat Patih Sidopekso pulang dan sang prabu menyebar fitnah seandainya Sritanjung jatuh cinta pada sang prabu dan berani merayunya. Karena terbakar cemburu, Patih Sidopekso marah dan membunuh Sritanjung.

Namun sebelum dibunuh, Sri Tanjung sempat menyampaikan bahwa apa yg didengar suaminya adalah fitnah. Sri Tanjung bersumpah seandainya dia masih setia dan mencintai suaminya dan seandainya dibunuh maka jasadnya mengeluarkan bau harum.

Peristiwa pembunuhan tersebut terjadi di sumber mata air dan saat jasad Sritanjung masuk ke dalam air, semerbak bau wangi keluar dari sumber mata air tersebut sehingga lokasi tersebut dikenal dengan nama Banyuwangi merupakan “banyu” yg berarti air dan “wangi” yg berarti harum.

Walaupun cerita tersebut cuma legenda, banyak yg mempercayai bahwa peristiwa tersebut terjadi di sebuah sumur yg terkenal di sebuah rumah yg beralamat di Jalan Sidopekso nomor 10 A Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Kota Banyuwangi atau tepatnya di belakang Pendopo Shaba Swagata Blambangan.

Erus Kadarisman (60), pemilik rumah yg di dalamnya terdapat sumur Sritanjung kepada KompasTravel, Jumat (11/11/2016), menjelaskan sumur tersebut masuk bagian rumahnya dan ia bangun kembali pada tahun 1970-an.

Sebelumnya sumur tersebut adalah sumber mata air yg tak pernah kering walaupun musim kemarau dan digunakan oleh masyarakat.

“Dari dalam sumur Sritanjung ini kadang keluar aroma harum dan biasanya itu adalah pertanda baik. Namun terkadang juga keruh dan beraroma anyir dan ini tandanya mulai ada peristiwa buruk seperti yg terjadi pada tahun 1965-an,” jelas laki laki yg akrab dipanggil Darisman tersebut.

Sumber: http://travel.kompas.com