Menziarahi Tanah Batak Dari Legenda Sigale-gale

By | November 12, 2016


KOMPAS.com –
Alkisah, ratusan tahun dulu ada seorang raja di wilayah Toba. Konon, dia memerintahkan anak laki-laki semata wayangnya ikut berperang.

Tak disangka, sang anak meninggal di medan perang. Kesedihan pun melanda raja. Teramat dalam. Singkat cerita, raja terpukul hingga jatuh sakit.

Tentu saja segala warga kerajaan ikut berduka. Namun, mereka dulu tergerak buat menyemangati sang raja. Dibuatlah patung dengan rupa yg mirip anak raja.

Setelah patung selesai dibuat, tetua adat menggelar upacara. Dalam prosesinya, dia meniup sordam, alat musik Batak Toba berupa seruling panjang yg terbuat dari bambu.

Perlahan, patung kayu itu ikut bergerak seirama dengan alunan sordam. Ia menari tanpa ada yg menggerakkan. Tetua adat percaya, roh sang anak terpanggil lewat media patung kayu dan alunan lagu.

Inilah hikayat Manggale, nama si anak raja itu, kisah di balik legenda patung sigale-gale. Patung tersebut kini menjadi warisan budaya Batak.

Namun, kisah tersebut tidak berhenti di situ. Patung sigale-gale telah menjadi salah sesuatu ikon budaya setempat. Bahkan, pada Jumat (9/9/2016), patung sigale-gale tampil gagah, meskipun tidak ada warga Batak meninggal dunia.

Bak peziarah

Pada hari itu, beberapa patung sigale-gale dengan penutup kepala berwarna hitam dan kain ulos lengkap, sengaja digerakkan. Kedua patung kelihatan menari tor-tor diiringi alunan melodi sordam, sembari melangkah.

Penampilan tersebut terjadi dalam pembukaan Festival Danau Toba (FDT) 2016 di Muara, Tapanuli Utara. Seiring zaman, patung sigale-gale memang sudah menjadi ikon wisata Kawasan Danau Toba. Dalam FDT 2016, kedua patung itu tampil justru bagi menyambut para tamu.

Sejak 2013, FDT diselenggarakan berganti-ganti lokasi di kabupaten yg berada dekat dengan Danau Toba.

KOMPAS.com/NURSITA SARI Patung kayu Sigale-gale menari tor-tor dalam Pembukaan Festival Danau Toba 2016 di Muara, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (9/9/2016) sore.

“(Tahun ini Muara dipilih karena) berada dekat sekali dengan Danau Toba. Letaknya termasuk di dataran tinggi. Nanti kalau malam itu suhunya mampu mencapai 15 sampai 17 derajat celcius,” ujar Bupati Tapanuli Utara, Nikson Nababan dikutip dari Kompas.com, Senin (5/9/2016).

Dari Muara, kata Nikson, panorama danau yg menjadi primadona Sumatera Utara itu mampu kelihatan jelas. Siapa nyana, kawasan kaldera ini dulunya terbentuk dari letusan gunung paling kuat sekitar 70.000-an tahun lalu.

Hasilnya, penampakan alam danau terbesar se-Asia Tenggara dengan panjang lebih kurang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer. Saking luasnya, Danau Toba masuk ke wilayah administratif tujuh kabupaten di Sumatera Utara.

Dengan Pulau Samosir berada persis di tengah, danau itu memiliki pemandangan elok dari sudut pandang mana pun.

Belakangan, para peneliti mendapati bukti bahwa Danau Toba bermula dari empat kali letusan gunung. Letusannya pun ditengarai sudah mengubah dunia. Bagi mereka yg menghayati, cerita ini menjadi pemicu kekaguman yang lain setiap kali mendatangi Danau Toba.

”Saya jatuh cinta sejak pertama kali melihat Danau Toba pada 1996,” kata Yustinus (48), warga Jakarta, di Balige, akhir Juni 2016, seperti dikutip harian Kompas, Selasa (2/8/2016).

Setiap kali tiba ke Toba, sarjana geografi itu mengaku terus kagum karena keindahan yg didapatkannya di Toba terus berbeda.

Dok. Marcel Lahea Pemandangan Danau Toba dari Kabupaten Simalungun.

Diperkirakan, empat letusan Toba terjadi pada 1,2 juta tahun dulu hingga 74.000 tahun lalu. Letusan-letusan dahsyat itu menghasilkan kaldera Haranggaol, Parapat, Porsea, Silalahi, dan Sibandang.

Letusan terakhir disebut yg terdahsyat. Sebanyak 2.800 kilometer kubik piroklastik silika terlontar dari perut bumi, terbang hingga menutupi Asia Selatan, Arab, India, dan Laut Tiongkok Selatan.

Letusan itu tercatat 35 kali lebih dahsyat dibandingkan Tambora, 150 kali lebih hebat daripada Krakatau, dan 50.000 kali kekuatan bom Hiroshima hingga menabalkan nama Super Volcano Toba.

Akibat letusan itu, bumi gelap selama enam tahun, suhu udara turun hingga 5 derajat celsius. Migrasi manusia terhenti dan nyaris melenyapkan peradaban manusia seperti diceritakan Ahmad Arif, dkk dalam Ekspedisi Cincin Api Kompas, Toba Mengubah Dunia.

Berasa tengah berziarah?

Destinasi wisata kelas dunia

Danau Toba tidak hanya hamparan luas air yg diam membosankan. Ada beragam cerita dan budaya lokal yg masih kental terasa, ada banyak keindahan yang lain yg melingkupi danau ini.

Kemunculan Pulau Samosir, misalnya, juga milik cerita tersendiri. Riset mendapati, aktivitas tektonik daratan Sumatera sudah membuat danau berbentuk tidak beraturan.

Gerakan magma dari sisa letusan terakhir dan gerakan lempeng Indo Australia yg memengaruhi sesar Sumatera mendorong naiknya perut bumi dari dalam danau 33.000 tahun lalu.

Lastboy Tahara Sinaga Pemandangan Danau Toba dari Pulau Samosir

Nah, daratan baru seluas 1.481 kilometer persegi yg terbentuk dari proses inilah yg kemudian dikenal sebagai Pulau Samosir.

Proses alam itu menciptakan panorama luar biasa indah yg dikagumi Yustinus. Panorama danau di Parapat menyuguhkan danau yg luas. Di Desa Sigaol Simbolon, Samosir, Danau Toba lebih mirip sungai lebar karena jarak Pulau Samosir dan Sumatera yg pendek.

Jernihnya air terjun Sipiso-piso di Karo berbeda dengan air terjun di Desa Bonan Dolok, Pangururan, yg airnya mirip air teh. Pesona terasering dengan batu besar terserak di Desa Sabulan, Samosir, berbeda dengan hamparan padi di Balige, Toba Samosir.

Pemandangan menawan juga terhampar saat menyusuri danau dengan kapal. Susunan bukit tufa yg terbentuk akibat letusan gunung berapi dari Balige hingga Pulau Sibandang di Tapanuli Utara atau dari Pangururan menuju Silalahi, mampu dinikmati di sini.

Tebaran pesona itu sempat mencatatkan kunjungan wisatawan asing hingga 249.656 orang per tahun. Namun, itu cerita 20 tahun lalu. Waktu itu 1996, Indonesia belum mengalami krisis ekonomi, belum masuk pula era reformasi, dan kabut asap belum menutupi Sumatera.

Kini, Danau Toba masih terseok-seok menanti wisatawan, terutama dari luar negeri. Merujuk catatan Badan Pusat Statistik pada 2015, wisatawan nusantara tiba jumlahnya mencapai 1.268.445. Sedangkan wisatawan asingnya cuma berjumlah 61.337.

Tantangan buat mengenalkan kembali Danau Toba sebagai destinasi wisata berkelas dunia pun mencuat. Pada 2015, pemerintah pun dulu memutuskan Danau Toba sebagai salah sesuatu dari 10 destinasi prioritas.

“Kami menargetkan Danau Toba dijadikan destinasi wisata penting kelas dunia (kembali), dengan upaya-upaya yg mulai dilakukan,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, seperti dikutip Kompas.com, Senin (5/9/2016).

FDT yaitu salah sesuatu upaya yg dimaksudkan Arief. Namun, tentu saja tidak hanya itu. Tak kurang, Presiden Joko Widodo dulu menegaskan fokus pengembangan Danau Toba dalam meeting kabinet terbatas pada akhir Agustus 2016.

TRIBUN MEDAN/SILFA HUMAIRAH Menikmati penyeberangan ke Pulau Samosir memakai kapal wisata.

Dalam meeting itu, Presiden mengatakan enam poin utama terkait Danau Toba. Pertama, pembangunan zona otorita wisata. Ada kawasan seluas 600 hektar yg sudah disiapkan pemerintah buat pembangunan hotel mewah, resort, convention center, dan lapangan golf.

“Pengembangannya berkonsep ekowisata,” ujar Arief Yahya seperti dikutip Kompas.com, Jumat (26/8/2016).

Kedua, pengembangan Bandara Silangit dan Sibisa. Dari situs web Bandara Silangit, rencana pengembangan bandara terakhir diinformasikan sudah dimulai pada 2015.

Bandara dibuat menjadi sepanjang 2.650 meter dan lebar 35 meter sehingga telah mampu dilalui pesawat berbadan lebar.

Saat ini penerbangan segera dari Jakarta—yang notabene masih jadi pintu masuk penting ke Indonesia—sudah difasilitasi beberapa maskapai, yakni Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia.

Nah bagi sampai di daerah tujuan wisata di sekitar Danau Toba, wisatawan mampu menumpang taksi dari bandara yg telah dibangun sejak masa sebelum kemerdekaan itu. Tarif taksi berkisar Rp 50.000 – Rp 550.000 tergantung jauh dekat lokasi.

(Baca: Perlu Taksi dari Bandara Silangit ke Danau Toba? Ini Daftar Harganya…)

Adapun Bandara Sibisa, landasannya mulai diperpanjang menjadi 2.250 meter dan lebar 30 meter dari ukuran semula yg cuma 750 meter dan lebar 35 meter.

KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo Suasana obyek wisata Pantai Indah Permai di Parapat, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Sabtu (20/8/2016). Danau Toba adalah salah sesuatu obyek wisata yg wajib dikunjungi seandainya berkunjung ke Tanah Batak.

Ketiga, pengambangan jalan tol. Dalam rencananya, pemerintah mulai mengembangkan jalan tol Tebing Tinggi-Parapat sepanjang 98,5 kilometer. Rencana itu langsung dimulai pada 2017.

“Rencananya mulai rampung pada 2019,” ujar Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, dua waktu lalu.

Keempat, pembangunan Taman Bunga Nusantara sebagai obyek wisata baru. Rencananya, Samosir dan Humbang Hasundutan jadi lokasi yg dipilih.

Kelima, Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba mulai digelar tiap tahun. Presiden menilai, pergelaran ini mampu dijadikan sebagai media pemersatu budaya Batak.

Terakhir, konsentrasi soal kelestarian Danau Toba. Luhut menyatakan, pembersihan lingkungan Danau Toba mulai dievaluasi. Selama ini Toba dipenuhi keramba jaring apung.

(Baca: Rencana Jokowi Kembangkan Danau Toba Jadi Destinasi Wisata Unggulan)

Akankah “si anak kesayangan” Toba mulai kembali bersolek dan tampil memikat wisatawan

Lagi-lagi, tidak cukup bila cuma pemerintah yg berupaya mengenalkan potensi pariwisata, termasuk Toba. Bagi Anda yg juga milik hobi menjelajah, bagikan saja cerita-cerita perjalanan ke destinasi nusantara lewat beragam cara, termasuk melalui media sosial.

Biar lebih mengena, pasang saja tanda pagar (tagar) atau hashtag #ceritadestinasi di setiap unggahan cerita Anda. Khusus buat Twitter dan Instagram, dapat disebutkan pula @ceritadestinasi di dalam unggahan.

Adapun di Facebook, fan page Cerita Destinasi bisa jadi salah sesuatu tempat memajang cerita perjalanan wisata Anda.
Sumber: http://travel.kompas.com