Kisah Endah, Wanita Yang Selalu Naik Kapal Laut Saat “Traveling”

By | November 12, 2016

RAJA AMPAT, KOMPAS.com – Sri Endah Setiawati (39) tampak menikmati liburan paket wisata PT Pelni ke Raja Ampat dua waktu lalu. Ia menghabiskan waktu bersama anak perempuannya baik di atas kapal maupun ketika mengunjungi obyek wisata. Senyum dan gelak tawanya kerap terlempar ketika itu.

Endah, begitu ia biasa dipanggil, berasal dari Bandung tepatnya Kecamatan Margahayu. Endah jauh-jauh tiba ke Raja Ampat dengan penuh perjuangan dari Pulau Jawa. Ia naik kapal laut dari Surabaya menuju Sorong sebelum bergabung bersama peserta paket wisata di Pelabuhan Sorong.

Perjalanan lima hari empat malam ia tempuh. Dari moda transportasi kereta api Bandung – Surabaya ia berganti kapal KM Ciremai ke Sorong. Di tengah perjalanan dari Surabaya ke Sorong, ia singgah di Makassar dan Bau-Bau.

Raja Ampat memang bagian dari mimpinya. Ia terus penasaran dengan wisata bahari yg ada di Indonesia.

“Ini pertama kali aku ke Raja Ampat. Semua orang bilang Raja Ampat itu ‘surga’,” ujarnya.

Perjalanan liburan naik kapal laut sebenarnya bukan hal baru bagi Endah. Sebelumnya ia pernah berwisata ke Belitung, Karimun Jawa, Batam, dan Makassar memakai kapal laut. Trauma naik pesawat udaralah yg melatarbelakangi Endah memakai kapal laut.

“Saya sahabat Pelni. Saya keliling Indonesia bahkan keluar negeri pun pakai Pelni. Macam aku ke Singapura, Malaysia, Bangkok naik Pelni sampai Batam dahulu lanjut naik cruise atau kereta,” kata Endah.

Ia pernah berlibur ke Singapura pada tahun 2015 memakai kapal laut. Kapal yg ia gunakan adalah KM Kelud. Bersama empat orang temannya ia berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Batam.

“Saya berenam mau ke Batam. Setiba di Batam, aku naik kapal feri ke Singapura. Itu 45 menit lamanya. Kalau mau ke Johor, aku naik kapal dari Batam selama sesuatu jam lebih beberapa puluh menit,” cerita perempuan mantan perawat ini.

Pernah suatu waktu ia pergi ke Belitung buat liburan. Ia pun memilih jalur laut sebagai transportasi. Kala itu Endah memilih KM Lawit menuju Pelabuhan Tanjung Pandan.

“Kalau liburan Jakarta-Batam itu mampu beberapa sampai tiga kali dalam setahun. Sebetulnya aku kenal dan naik Pelni ini dari tahun 1998,” tutur Endah.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Demi ke Raja Ampat, Sri Endah Setiawati (39) pergi memakai kapal laut dari Surabaya menuju Sorong. Hal itu dikerjakan lantaran memiliki trauma pergi memakai pesawat udara.

Tahun 1998 itulah yg mengubah hidup Endah sehingga memilih kapal laut sebagai transportasi penting antar pulau. Tahun itu ia pernah mengalami kejadian yg membuatnya trauma. Pesawat yg ia tumpangi dengan rute Makassar – Bandung mengalami turbulensi. Keadaan di dalam pesawat kacau.

“Saya pulang sendiri naik pesawat bawa bayi umur beberapa bulan. Dulu transit, dari Ujung Pandang ke Bandung itu harus transit beberapa kali di Bali dan Surabaya. Dari Ujung Pandang ke Bali aman, tetapi dari Surabaya-Bandung itu ada turbulensi. Buat aku itu turbulensi sangat hebat. Pesawat telah terbang selama 15 menit,” cerita Endah.

Saat itu ia tidak sedang menggunakan sabuk pengaman. Pada ketika kejadian itu tidak ada tanda-tanda turbulensi. Tiba-tiba pesawat yg ia tumpangi anjlok.

Hingga ketika ini, ia terus memilih kapal laut buat pergi. Meski kadang-kadang di sesuatu waktu ia masih naik pesawat pada waktu-waktu tertentu.

“Kalau tak utama atau urgent, aku gunakan Pelni. Atas dasar (trauma pesawat) itu aku naik Pelni. Selain liburan, aku kalau ada dinas juga naiknya Pelni. Dari tahun 1998 sampai tahun 2016 ke Makassar aku lebih pilih naik Pelni,” ucap perempuan yg kini berbisnis di bidang properti itu.

Petualangannya keliling Indonesia naik kapal laut tidak berhenti. Maret tahun depan, ia berencana mengunjungi Pontianak. Kemudian, ia mulai melanjutkan perjalanan ke Kuching, Serawak, dan Brunei Darussalam.

Sumber: http://travel.kompas.com