Orang Indonesia Kurang Menghargai Teh…

By | September 9, 2016

KOMPAS.com – “Coba lihat, di rumah, kalian pasti milik stok teh bukan? Teh memang jadi kebutuhan sehari-hari bagi orang Indonesia. Namun kenapa begitu ada tamu, biasanya kalian bilang, ‘maaf ya adanya hanya teh’,” tutur Ratna Somantri.

Pakar teh itu mengungkapkan, apresiasi orang Indonesia terhadap teh masih sangat minim. Padahal, Indonesia adalah negara penghasil teh terbesar ketujuh di dunia.

“Beda dengan orang luar negeri yg sangat menghargai teh. Sebut saja Inggris, China, Jepang.. Mereka milik tradisi minum teh. Ini sesuai dengan sejarahnya, lalu teh cuma boleh diminum oleh keluarga kerajaan atau keluarga kaisar,” papar Ratna di sela-sela konferensi pers peluncuran Teavana di Starbucks Kota Kasablanka, Rabu (7/9/2016).

Penulis buku ‘The Story in a Cup of Tea’ itu kemudian menjelaskan. Kebun teh pertama di Indonesia hadir sekitar abad ke-17. Pada masa itu, minum teh adalah kegiatan yg sangat trendy di Eropa.

“Kemudian dibuatlah kebun-kebun teh oleh Belanda. Sampai Indonesia merdeka, teh adalah salah sesuatu komoditas ekspor utama,” tambahnya.

Kebun teh kemudian menggurita di berbagai pelosok Indonesia, terutama Pulau Jawa. Oleh karena pasokan yg banyak, harga teh pun menjadi murah.

“Itulah mengapa teh identik dengan sederhana, orang tua. Padahal kalian perlu mengapresiasi teh lebih dari itu. Indonesia juga milik teh yg diekspor ke mancanegara,” papar Ratna.

Tribun Jogja/Hamim Thohari Pemetik teh di Kebun Teh Tambi, Wonosobo.

Teavana misalnya, merk speciality tea yang diakuisisi Starbucks memiliki beberapa varian teh dari Indonesia.

“Di negara asalnya (AS), Teavana milik ratusan macam speciality tea dari berbagai negara. Ada beberapa macam teh dari Indonesia, salah satunya Golden Black Tea,” tuturnya. 

Hadirnya Teavana di gerai Starbucks Indonesia diharapkan mampu “mengangkat derajat” teh sebagai minuman yg kaya cita rasa layaknya kopi.

“Orang Indonesia kurang menghargai teh. Padahal dari segi rasa, teh sangat enak seandainya dicampur berbagai buah atau bunga. Tidak lagi ada kata ‘cuma’ sebelum kata ‘teh’,” tutupnya.

Sumber: http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.