Kenangan Jawa Di Sudut Bangkok

By | September 22, 2016

JEJAK budaya Jawa ada yg terselip di antara modernitas belantara beton Bangkok, Thailand. Di kampung itu, ada Supri (60), orang Thailand keturunan Kendal, yg masih setia menjalani ritual tujuh harian, dan para cucu Ahmad Dahlan yg rindu Bengawan Solo.

Kampung Jawa di Thailand terletak di tengah-tengah pusat distrik bisnis Bangkok di Shatorn. Kampung itu mirip sekali dengan Kauman di Yogyakarta atau Solo. Jalan kampung yg sempit dengan rumah yg padat, tapi tidak terkesan kumuh.

Di sepanjang jalan, orang-orang berpeci dan bersarung bersepeda lalu-lalang menembus gang-gang kecil perkampungan. Kumandang azan Ashar, membahana saat aku datang pada Kamis (25/8/2016) lalu.

Jika di Yogyakarta dan di Solo kampung Kauman dikelilingi kampung-kampung lain, di Bangkok, kampung itu dikelilingi gedung-gedung perkantoran tinggi distrik bisnis kota Bangkok.

Seperti namanya Kampung Jawa, perkampungan ini berisi orang-orang Thailand keturunan Jawa. Mereka rata-rata berasal dari kota-kota di Jawa Tengah, seperti Kendal dan Demak.

Supri Bin Tassa (60) adalah salah satunya. Warga Kampung Jawa ini, memiliki darah Jawa dari kakek-neneknya.

”Kakek nenek aku asli Kendal, Jawa Tengah, mereka didatangkan ke Thailand pada masa raja membangun Taman Lumpini yg terinspirasi dari Kebun Raya Bogor. Akhirnya para pekerja Jawa pun tinggal dan hidup turun-temurun di sini. Kini di sinilah kalian berada,” kata Supri yg bernama Thailand, Suppor.

Kampung Jawa memang berada di dekat Taman Lumpini, taman yg terinspirasi Kebun Raya Bogor. Menurut Sekretaris Pertama Bidang Penerangan, Sosial, dan Budaya Kedutaan Besar RI buat Thailand, Ghofar Ismail, Raja Rama V Chulalongkorn sangat terkesan dengan Kebun Raya Bogor.

Berdasarkan catatan dari National Archives of Thailand (NAT) Raja Rama V memang pernah tiba ke Jawa buat pelesir pada abad ke-19. Salah sesuatu tempat yg ia datangi adalah Kebun Raya Bogor.

Di kemudian hari, Pemerintah Kerajaan Thailand pun mendatangkan pekerja dari Jawa buat membangun Lumpini agar dapat semirip mungkin dengan Kebun Raya Bogor. Mereka membawa pula pohon asam jawa sebagai salah sesuatu tanaman yg ditanam di kota itu. Sampai ketika ini Lumpini menjadi ikon taman kota di Bangkok.

Kenduri

Saat kita bertemu, Supri dan warga Kampung Jawa sedang mempersiapkan kenduri di Masjid Jawa di Bangkok. Selayaknya di Jawa, kenduri di masjid tersebut dihadiri para warga Muslim.

Sumber: http://travel.kompas.com