Apa Bedanya Wisata Kuliner Dan Wisata Gastronomi?

By | September 24, 2016

JAKARTA, KOMPAS.com – Wisata kuliner, ajang menjajal kuliner khas setempat tentu telah hal biasa dan banyak di antara Anda yg hobi melakukan hal tersebut. Namun pernahkah Anda mendengar wisata gastronomi?

Wisata gastronomi memang terdengar asing di Indonesia. Istilah wisata gastronomi memang lebih bergaung di luar negeri dibanding dalam negeri.

Namun seandainya diartikan, menurut Hall dan Shraples (2003) sebagaimana yg dirangkum oleh Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO), wisata gastronomi adalah sebuah perjalanan yg berhubungan dengan makanan ke suatu daerah dengan tujuan rekreasi.

Termasuk berkunjung ke penghasil makanan penting dan kedua, acara festival makanan, pasar petani, acara memasak dan demonstrasi, serta mencicipi produk makanan berkualitas dan aktivitas pariwisata yg berhubungan dengan makanan. 

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Wisatawan AS membuat kue cucur dan pisang goreng di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (31/8/2016).

Dengan kata lain, wisata makanan tersebut memberi pengalaman, hasil dari proses belajar budaya yg berbeda. Kuliner bukan lagi sebagai satu yg dikonsumsi melainkan menjadi sifat atau atribut yg berhubungan dengan produk pariwista.

Dosen mata kuliah Gastronomi Food di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Zayyini Nahdlah memberi contoh dari wisata gastronomi agar Anda bisa memahami dengan lebih mudah.

“Misal berkunjung ke sawah kemudian belajar menanam padi dan memancing ikan yg ada di kolam. Selesai dari sana, belajar memasak dengan cara orang lokal. Misal memasak di tungku dengan peralatan tradisional, dan makan bersama-sama dengan cara orang lokal. Kemudian ketika makan ada chef yg menjelaskan mengenai alasan makanan yg disantap lebih sehat serta budaya makan setempat,” kata Zayyini. 

Menurut Zayyini, orang Indonesia, khususnya di daerah sebenarnya sudah melakukan proses terkait wisata gastronomi tersebut. Sayangnya masih banyak yg belum tersampaikan, seperti penjelasan mulai filosofi makanan. “Kita telah milik itu, tetapi belum sadar dan belum mengemas itu sebagai gastronomi. Kalau dikemas, mampu dijual dan orang paham,” katanya.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Ilustrasi wisatawan ketika mengunjungi pasar tradisional di Pasar Ubud, Gianyar, Bali dua waktu lalu.

Padahal, lanjut Zayyini, wisata gastronomi sebenarnya sangat berkaitan erat dengan dunia pariwisata dan tentunya bisa mendatangkan rezeki buat para pelaku wisata.

“Gastronomi tidak cuma berkaitan dengan menikmati makanan saja. Apalagi orang sekarang ingin diet hidup sehat. Makanya orang Eropa mencari wisata gastronomi bukan wisata kuliner karena mereka tahu yang berasal usul makannya,” tambah Zayyini.

*****

KompasTravel kembali menghadirkan kuis “Take Me Anywhere 2”. Pemenang mulai mendapatkan kesempatan liburan gratis yg seru ke Yogyakarta selama tiga hari beberapa malam.

Hadiah telah termasuk tiket pesawat, transportasi lokal, hotel, konsumsi, dan beragam aktivitas seru selama di Yogyakarta. Juga raih kesempatan memenangkan hadiah smartphone. Klik link berikut: Catat, 6 Tips “Selfie” Saat Liburan ala “Take Me Anywhere 2”

Sumber: http://travel.kompas.com