Gunung Buller Memang Surga Wisata, Tetapi Bukan Melulu Untuk Nikmati Salju

By | September 25, 2016

KOMPAS.com — Selama ini, Gunung Buller memang terkenal sebagai tempat bermain ski buat warga Australia. Namun, nyatanya tak cuma itu. Kawasan wisata ini juga menawarkan berbagai pengalaman menarik bagi pengunjungnya.

“Pada musim panas, kalian memiliki beragam kegiatan, seperti mengendarai sepeda gunung, mendaki, jalan santai, piknik, dan trail running,” ucap Kate Monahan, Media, dan Marketing Officer Mount Buller dalam acara Tourism Australia dan Garuda Indonesia’s Media Trip di Melbourne, Australia, Rabu (21/9/2016).

Menurut Kate, puncak musim liburan terjadi selama Juli dan Agustus. Namun, wisatawan tetap bisa berkunjung sepanjang tahun, yg dimulai pada pertengahan Juni sampai akhir September.

Gunung tersebut juga cocok buat dijadikan tempat menenangkan diri dari keramaian kota. Wisatawan mampu bermain seluncur tobogganing, bertualang di Gnome Rome, atau sekadar mengelilingi pedesaan.

Dengan adanya beragam wahana liburan, pengunjung Gunung Buller disarankan bagi menginap. Ada puluhan penginapan komersial dengan tipe berbeda-beda.

Pengunjung pun tak perlu takut tersesat atau kesulitan di gunung karena Mount Buller memiliki 5.000 hingga 10.000 pegawai yg siaga membantu. Ada 30 bus dan restoran buat mendukung mobilitas dan kenyamanan wisatawan selama berada di kawasan wisata itu.

(Baca juga: Cukup Rp 7 Juta-an Pergi Pulang ke Australia Pakai Garuda)

Ekspansi besar

Wisatawan lokal masih “memegang piala” sebagai pengunjung terbanyak di Gunug Buller. Sementara itu, wisatawan asing kebanyakan tiba dari Indonesia, China, Singapura, Malaysia, India, serta Timur Tengah.

“Jumlah wisatawan berbeda setiap musimnya. Total selama musim dingin tahun ini ada sekitar 300.000 pengunjung. Jumlah itu meningkat 15 persen dari tahun lalu,” ujar Kate.

Kate mengatakan, pihak pengelola sudah menyiapkan strategi pengembangan 20 tahun ke depan buat meningkatkan jumlah kedatangan turis, terutama pada musim panas. Rencana utamanya adalah tidak mengurangi tempat parkir, restoran, dan berbagai akomodasi lainnya.

“Dalam waktu dekat, kita mulai mengadakan berbagai acara, seperti mengendarai sepeda gunung dan lari. Festival makanan dan wine juga menolong tidak mengurangi angka kedatangan turis,” ujar Kate.

Sumber: http://travel.kompas.com